Jumat 28 Oct 2022 15:23 WIB

Ekonom: Jepang Pangkas Produksi pada September

Ekonom memprediksi produksi industri Jepang turun 1 persen dari bulan sebelumnya.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
 Pekerja merakit kendaraan di pabrik perakitan mobil Toyota Tsutsumi di Toyota, dekat Nagoya, Jepang tengah, 08 Desember 2017 (diterbitkan kembali 01 Maret 2022). Jajak pendapat Reuters menunjukkan kemungkinan besar pabrik-pabrik Jepang memangkas produksinya pada bulan September.
Foto: EPA-EFE/FRANCK ROBICHON
Pekerja merakit kendaraan di pabrik perakitan mobil Toyota Tsutsumi di Toyota, dekat Nagoya, Jepang tengah, 08 Desember 2017 (diterbitkan kembali 01 Maret 2022). Jajak pendapat Reuters menunjukkan kemungkinan besar pabrik-pabrik Jepang memangkas produksinya pada bulan September.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Jajak pendapat Reuters menunjukkan kemungkinan besar pabrik-pabrik Jepang memangkas produksinya pada bulan September. Ini mengakhiri pertumbuhan tiga bulan berturut-turut mengikuti dicabutnya peraturan ketat Covid-19 di China dan meredanya kemacetan pasokan.

Berdasarkan jajak pendapat 17 ekonom rata-rata berpendapat produksi industri September mungkin turun 1 persen dari bulan sebelumnya.  

Baca Juga

"(Pertumbuhan produksi di) peralatan transportasi dan yang berkaitan dengan sektor-sektor itu mungkin mengalami tahap penyesuaian," kata para ekonomi di  SMBC Nikko Securities, Jumat (28/10/2022).

Mereka menambahkan produksi bulan September hanya sedikit menyusut sebab, mengutip data ekspor, produksi mesin lainnya masih solid.

Produsen mobil terbesar di dunia Toyota Motor Corp mengatakan produksinya di seluruh dunia naik 30 persen pada kuartal ketiga tahun ini yang berakhir bulan September. Tapi kelangkaan semikonduktor masih membebani terutama bagi pabrik-pabrik domestik.

Survei korporat Reuters menunjukkan sentimen manufaktur Jepang semakin memburuk sejak bulan lalu. Disebabkan naiknya biaya produksi karena inflisi global dan pelemahan yen.

"Produksi industri akan maju-mundur dengan inflasi dan diperkirakan melambatkan ekonomi luar negeri," kata kepala ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami.

Data terpisah diharapkan akan menunjukkan kenaikan penjualan sebanyak 4,1 persen pada September year-on-year. Memperpanjang pertumbuhan tahunan selama tujuh bulan berturut-turut sejak Maret lalu ketika pemerintah mencabut semua peraturan Covid-19.

Kini Jepang sudah membuka kembali ekonominya ditambah dengan semakin longgarnya peraturan di perbatasan bagi turis asing, diharapkan akan membantu memulihkan konsumsi meskin inflasi yang tertinggi dalam tiga dekade masih membayangi prospek pertumbuhan.

Setelah pertumbuhan perekonomian tahunan pada April sampai Juni menguat 3,5 persen. Ekonom yang mengikuti jajak pendapat Reuters memperkirakan Produk Domestik Bruto Jepang tumbuh 1,3 persen di kuartal ketiga dan 2,0 persen pada kuartal keempat.

Pemerintah Jepang akan merilis data produksi pabrik dan penjualan  pada 31 Oktober mendatang.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement