Sabtu 29 Oct 2022 10:13 WIB

Rusia Tutup Mobilisasi Pasukan untuk Perang

82 ribu telah dikirim ke zona pertempuran dan sisanya sedang berlatih.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Rekrutmen Rusia berjalan untuk naik kereta api di stasiun kereta api di Prudboi, wilayah Volgograd Rusia, Kamis, 29 September 2022. Rusia mengumumkan telah selesai memanggil pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina pada Jumat (28/10/2022).
Foto: AP Photo
Rekrutmen Rusia berjalan untuk naik kereta api di stasiun kereta api di Prudboi, wilayah Volgograd Rusia, Kamis, 29 September 2022. Rusia mengumumkan telah selesai memanggil pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina pada Jumat (28/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, KHERSON -- Rusia mengumumkan telah selesai memanggil pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina pada Jumat (28/10/2022). Moskow mengerahkan ratusan ribu pasukan dalam sebulan dan mengirim lebih dari seperempat pasukan militernya ke medan perang.

"Tugas yang Anda tetapkan untuk (memobilisasi) 300 ribu orang telah selesai. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang direncanakan," kata Menteri Pertahanan Sergei Shoigu kepada Presiden Vladimir Putin pada pertemuan yang disiarkan televisi di Istana Kremlin.

Baca Juga

Shoigu mengatakan, 82 ribu telah dikirim ke zona pertempuran dan sisanya sedang berlatih. Putin pun berterima kasih kepada pasukan cadangan atas dedikasi terhadap tugas dan patriotisme.

"Atas tekad kuat mereka untuk membela negara kita, untuk membela Rusia, yang berarti rumah mereka, keluarga mereka, warga negara kita, rakyat kita," ujar Putin.

Putin dan Shoigu juga mengakui terdapat masalah pada hari-hari awal pemanggilan pasukan cadangan. Namun, menurut Shoigu, masalah awal dalam memasok pasukan yang baru dimobilisasi telah diselesaikan. Sedangkan Putin menyatakan, kesalahan mungkin tidak dapat dihindari karena Rusia tidak melakukan mobilisasi untuk waktu yang lama, tetapi pelajaran telah dipetik.

Mobilisasi yang diperintahkan Putin bulan lalu setelah pasukannya mengalami kemunduran besar di medan perang adalah pertama kalinya sebagian besar orang Rusia menghadapi dampak pribadi langsung dari "operasi militer khusus" yang diluncurkan pada Februari. Lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam protes anti-mobilisasi, terutama di beberapa bagian Rusia yang dihuni oleh etnis minoritas yang mengeluh menjadi sasaran yang tidak proporsional untuk dikirim ke garis depan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, dia ragu Moskow sudah selesai memanggil tentara. Dalam pidatonya yang disiarkan televisi setiap malam, dia mengatakan, pasukan Rusia sangat tidak siap dan tidak memiliki peralatan yang lengkap.

"Begitu brutal digunakan oleh komando mereka, sehingga memungkinkan kita untuk menganggap bahwa segera Rusia mungkin membutuhkan gelombang baru orang untuk dikirim ke perang," ujar Zelenskyy.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan mengirim lagi 275 juta dolar AS bantuan militer ke Ukraina, termasuk senjata, amunisi, dan peralatan dari inventaris Pentagon. Kucuran dana ini membawa bantuan militer AS di bawah pemerintahan Joe Biden menjadi lebih dari 18,5 miliar dolar AS.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, pemerintah sedang bekerja untuk menyediakan Ukraina dengan kemampuan pertahanan udara yang dibutuhkan. Sebanyak dua NASAMS anti-pesawat canggih siap untuk pengiriman ke negara itu bulan depan. Dia mengatakan, Washington juga bekerja dengan sekutu dan mitra untuk memungkinkan pengiriman sistem pertahanan udara sendiri ke Kiev. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement