Senin 31 Oct 2022 22:02 WIB

Menlu China dan AS Bahas Hubungan Bilateral Ekonomi dan Politik

Menlu China dan AS melakukan percakapan telepon pada Senin (31/10/2022)

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony John Blinken (tengah) bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kiri), Menteri Luar Negeri Kanada Melanie Joly (kedua kiri), Menlu Brasil Carlos Alberto Franco (kedua kanan) dan Menlu Jerman Annalena Baerbock menghadiri pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/7/2022).
Foto: ANTARA/POOL/Sigid Kurniawan
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony John Blinken (tengah) bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kiri), Menteri Luar Negeri Kanada Melanie Joly (kedua kiri), Menlu Brasil Carlos Alberto Franco (kedua kanan) dan Menlu Jerman Annalena Baerbock menghadiri pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/7/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING - Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menlu Amerika Serikat Antony Blinken melakukan percakapan telepon pada Senin (31/10/2022) untuk membahas hubungan bilateral kedua negara pemimpin ekonomi dunia itu. Kebijakan terbaru AS terkait pembatasan ekspor dan investasi China merupakan pelanggaran atas kesepakatan perdagangan bebas bilateral, kata Wang kepada Blinken.

Menurut dia, kebijakan tersebut harus segera dievaluasi karena mengganggu kepentingan China yang sah. Kedua belah pihak juga bertukar pandangan mengenai situasi krisis di Ukraina.

Baca Juga

Wang mendesak semua pihak agar bersikap tenang dan fokus pada upaya diplomatik untuk menghindari peningkatan situasi. Sementara Blinken menganggap perang Rusia melawan Ukraina sebagai ancaman terhadap keamanan global dan stabilitas ekonomi.

Percakapan telepon kedua menlu itu disebut-sebut sebagai langkah awal sebelum pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Joe Biden di sela-sela KTT G20 di Bali pada bulan depan. Namun, China belum bersedia menanggapi spekulasi tersebut.

"Saya tidak memiliki informasi yang bisa saya sampaikan saat ini," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA) Zhao Lijian menjawab pertanyaan wartawan di Beijing, Senin sore, mengenai spekulasi itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement