Ahad 06 Nov 2022 11:15 WIB

Raisi: Amerika Serikat Berusaha Obok-obok Iran, Tapi Mereka Gagal 

Presiden Iran Ebrahim Raisi kecam intervensi Amerika Serikat terhadap negaranya

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nashih Nashrullah
Presiden Iran Ebrahim Raisi, kecam intervensi Amerika Serikat terhadap negaranya.
Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Presiden Iran Ebrahim Raisi, kecam intervensi Amerika Serikat terhadap negaranya.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI – Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan, kota-kota Iran aman dan terjaga atas upaya gagal memicu pemberontakan serupa 2011 yang digagas Amerika Serikat (AS). 

Pemimpin Iran telah berjuang menekan demonstrasi yang meletus pada September setelah kematian Mahsa Amini yang ditahan polisi moral karena melanggar undang-undang ketat berpakaian. 

Baca Juga

"Amerika dan musuh lainnya berusaha untuk mengacaukan Iran dengan menerapkan rencana yang sama seperti di Libya dan Suriah, tetapi mereka gagal," kata Raisi seperti dikutip oleh kantor berita Iran kepada sekelompok mahasiswa pada Jumat (4/11/2022). 

Sebuah pemberontakan rakyat di Libya menyebabkan intervensi NATO pada 2011 dan penggulingan dan pembunuhan pemimpin negara itu Muammar Gaddafi oleh pemberontak. 

Sedangkan di Suriah, demonstrasi massal terhadap sekutu Iran Presiden Bashar al-Assad dihadapkan dengan kekuatan dan negara itu berputar ke dalam konflik yang berlanjut 11 tahun. 

Raisi menyatakan, kondisi sebaliknya terjadi di Iran. Kota-kota di negara itu dinilai sekarang telah aman dan sehat. Dia menjanjikan pembalasan atas kerusuhan yang telah terjadi di negara itu. 

Tapi mahasiswa dari selusin universitas di Teheran, Karaj, Rasht, dan Mashhad tetap melakukan memprotes pada Sabtu (5/11/2022). 

Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan," menurut video yang diposting oleh kantor berita aktivis //HRANA//. 

Kelompok hak asasi Hengaw memposting video yang katanya berasal dari Sanandaj, ibu kota Provinsi Kurdistan, dengan pengunjuk rasa memulai kebakaran untuk memblokir jalan utama pada Sabtu malam. Ada juga protes di kota Bukan, Saqez, dan Marivan di barat laut. 

Sebuah video media sosial yang dikatakan berasal dari kota barat daya Ahvaz menunjukkan seorang pemuda membakar patung Komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani yang gugur dalam serangan Amerika Serikat pada 2020 di Irak. 

Demonstrasi yang berjalan hampir dua bulan ini membuat ratusan orang yang sebagian besar pengunjuk rasa telah meninggal dunia. 

Peristiwa itu dinilai menjadi salah satu gelombang kerusuhan paling serius yang melanda Iran sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan  Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat. 

Laporan //HRANA// mengatakan, 314 pengunjuk rasa telah meninggal dalam kerusuhan pada Jumat, termasuk 47 anak di bawah umur. 

Sekitar 38 anggota pasukan keamanan juga menjadi korban. Setidaknya 14.170 orang telah ditangkap, termasuk 392 mahasiswa, dalam protes di 136 kota besar dan kecil dan 134 universitas.

Beberapa pertumpahan darah terburuk terjadi di provinsi tenggara Iran, Sistan-Baluchistan, dengan banyak dari minoritas Sunni tinggal di negara mayoritas Muslim Syiah. 

Amnesty International mengatakan, sekitar 10 orang mungkin meninggal setelah pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa yang melemparkan batu dan dilaporkan menyerang sebuah gedung pemerintah. 

Krisis telah menyeret mata uang Iran ke posisi terendah baru. Menurut situs valuta asing Bonbast.com, dolar AS dijual seharga 362.100 riyal di pasar tidak resmi pada Sabtu, setelah kehilangan hampir 12 persen nilainya sejak protes dimulai. 

Dalam upaya nyata untuk mengekang penurunan mata uang, pemerintah mengesahkan penjualan daring oleh dealer mata uang untuk memudahkan orang membeli mata uang keras pada Sabtu. 

Sedangkan Kementerian Intelijen mengatakan, telah memblokir rekening bank dari 2.300 nasabah yang dituduh terlibat dalam pasar gelap mata uang. Media pemerintah Iran menyatakan, mereka mungkin menghadapi tindakan hukum.     

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement