Senin 07 Nov 2022 08:27 WIB

Puluhan Kapal Pengangkut LNG Berlayar di Sekitar Lepas Pantai Eropa

Jumlah kapal tanker LNG yang berlayar di perairan Eropa telah naik dua kali lipat

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Sebuah kapal tanker melakukan bongkar muat di Pelabuhan minyak Wilhelmshaven, Jerman, Selasa 10 Juni 2008. Pemerintah Jepang disebut sedang mengkaji rencana penyaluran gas alam cair (LNG) ke Eropa.
Foto: AP Photo/Joerg Sarbach
Sebuah kapal tanker melakukan bongkar muat di Pelabuhan minyak Wilhelmshaven, Jerman, Selasa 10 Juni 2008. Pemerintah Jepang disebut sedang mengkaji rencana penyaluran gas alam cair (LNG) ke Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Lebih dari 30 kapal tanker yang membawa gas alam cair (LNG)  berhenti di lepas pantai Eropa. Menurut perusahaan analisis pelayaran Vortexa, kapal-kapal tersebut membawa LNG senilai 2 miliar dolar AS, serta berlayar perlahan di sekitar Eropa Barat Laut dan Semenanjung Iberia.

“Kapal LNG telah mengantri di luar terminal penerima LNG Eropa, mengejar apa yang mereka harapkan sebagai pasar premium untuk LNG ini. Untuk saat ini kapal-kapal tersebut memiliki insentif untuk mempertahankan posisi, untuk mengantisipasi bahwa cuaca yang lebih dingin akan meningkatkan permintaan energi dan akan menaikkan harga," ujar Kepala Divisi LNG di Vortexa, Felix Booth, dilaporkan Aljazirah, Ahad (6/11/2022).

Data Vortexa menunjukkan, 30 kapal lainnya berlayar melintasi Atlantik dan diharapkan bergabung dengan kapal tanker lainnya sebelum musim dingin. Jumlah kapal tanker LNG yang berlayar di perairan Eropa telah naik dua kali lipat dalam dua bulan terakhir karena negara-negara Eropa mulai mengisi tangki gas penyimpanan mereka sebelum musim dingin.

Rusia telah mengurangi pasokan gas ke beberapa negara Eropa sebagai tanggapan atas sanksi Barat terkait invasi Moskow ke Ukraina. Beberapa negara Eropa membeli LNG sebagai substitusi, terutama menjelang musim dingin.

Tagihan listrik dan harga pangan di Eropa melonjak akibat invasi Rusia di Ukraina. Harga gas alam telah turun dari rekor tertinggi musim panas dan pemerintah mengalokasikan bantuan energi sebesar 576 miliar euro untuk rumah tangga dan bisnis sejak September 2021. Namun menutut lembaga think tank Bruegel yang berbasis di Brussels, langkah itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di tengah inflasi yang meningkat. Harga energi telah mendorong inflasi di 19 negara yang menggunakan mata uang euro ke rekor 9,9 persen, sehingga membuat masyarakat memilih untuk menahan pengeluaran.

“Hari ini, orang wajib menggunakan taktik tekanan untuk mendapatkan kenaikan gaji”, kata Rachid Ouchem, seorang petugas medis yang berada di antara lebih dari 100.000 orang yang bergabung dalam aksi protes di beberapa kota di Prancis.

Menurut konsultan risiko Verisk Maplecroft, dampak dari perang di Ukraina secara tajam meningkatkan risiko kerusuhan sipil di Eropa. Para pemimpin Eropa sangat mendukung Ukraina dengan mengirimkan bantuan senjata ke negara itu. Para pemimpin Eropa juga menjatuhkan sejumlah sanksi kepada Rusia, salah satunya memotong pasokan gas alam dari Moskow dan mencari sumber lain. Namun transisi ini tidak mudah dan mengancam akan mengikis dukungan publik.

 "Tidak ada perbaikan cepat untuk krisis energi. Dan jika ada, inflasi sepertinya akan lebih buruk tahun depan daripada tahun ini. Itu berarti hubungan antara tekanan ekonomi dan opini populer tentang perang di Ukraina akan benar-benar diuji,” kata Torbjorn Soltvedt, seorang analis di Verisk Maplecroft.

Prancis mencatat inflasi sebesar 6,2 persen, atau terendah di 19 negara zona euro. Namun pekerja kereta api dan transportasi, guru sekolah menengah dan pegawai rumah sakit umum turun ke jalan untuk menuntut kenaikan gaji. Mereka juga memprotes intervensi pemerintah terkait pemogokan pekerja kilang yang menyebabkan kelangkaan bensin.

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement