Kamis 10 Nov 2022 17:50 WIB

China Desak Negara Maju Penuhi Janji Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang

Negara berkembang menjadi pihak yang paling menderita akibat perubahan iklim.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Orang-orang berjalan di sepanjang dasar sungai kering Sungai Jialing, anak sungai Yangtze, di Kotamadya Chongqing, China barat daya, 20 Agustus 2022. Cuaca yang memanas di bumi dan naiknya air laut semakin memburuk dan terjadi lebih cepat dari sebelumnya, Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan Minggu, 6 November 2022, dalam nada muram ketika para pemimpin dunia mulai berkumpul untuk negosiasi iklim internasional di resor Sharm el-Sheikh Mesir.
Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein
Orang-orang berjalan di sepanjang dasar sungai kering Sungai Jialing, anak sungai Yangtze, di Kotamadya Chongqing, China barat daya, 20 Agustus 2022. Cuaca yang memanas di bumi dan naiknya air laut semakin memburuk dan terjadi lebih cepat dari sebelumnya, Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan Minggu, 6 November 2022, dalam nada muram ketika para pemimpin dunia mulai berkumpul untuk negosiasi iklim internasional di resor Sharm el-Sheikh Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China mendesak negara-negara maju merealisasikan janji pendanaan 100 miliar dolar AS per tahun untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi dampak dan mengatasi perubahan iklim. Menurut Beijing, hal itu telah menjadi tanggung jawab historis dan internasional mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Zhao Lijian mengungkapkan, proses global perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan berat. Negara-negara berkembang, kata Zhao, menjadi pihak yang paling menderita akibat perubahan iklim.

Baca Juga

“Kami mendesak negara-negara maju untuk sungguh-sungguh meningkatkan tanggung jawab historis mereka dan memenuhi kewajiban internasional mereka. Secara khusus, mereka harus memenuhi janji mereka untuk memobilisasi 100 miliar dolar AS per tahun untuk aksi iklim di negara-negara berkembang sesegera mungkin,” kata Zhao dalam pengarahan pers, Rabu (9/11/2022), dilaporkan laman resmi Kemenlu China.

Selain pendanaan, menurut Zhao, negara-negara maju juga harus menawarkan peta jalan untuk menggandakan pendanaan adaptasi. Mereka pun perlu membantu negara-negara berkembang meningkatkan ketahanan iklim dan membentuk sinergi lebih besar dalam tindakan.

Zhao mengungkapkan, China secara aktif menerapkan strategi perubahan iklim nasional. Negeri Tirai Bambu konsisten mengejar jalur pembangunan hijau dan rendah karbon yang memprioritaskan perlindungan ekologis. “Sejak China mengumumkan tujuan ambisius puncak karbon dan netralitas karbon, kemajuan penting telah dibuat ke arah itu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dari 2012 hingga 2021, China mendukung tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata 6,6 persen dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi tahunan 3 persen. Emisi karbon dioksida per unit PDB turun sekitar 34,4 persen dan intensitas energinya turun 26,4 persen, mencapai penghematan kumulatif 1,4 miliar ton batu bara standar.

“Pada Juli 2021, China secara resmi meluncurkan pasar perdagangan emisi karbon nasional yang mencakup sekitar 4,5 miliar ton emisi karbon dioksida per tahun, menjadikannya yang terbesar dari jenisnya di dunia,” kata Zhao.

Zhao mengungkapkan, pada Kongres Nasional Partai Komunis China ke-20 yang baru saja selesai, rencana-rencana penting disusun untuk memenuhi tujuan karbon ganda. Menurut dia, China akan terus bekerja sama dengan pihak lain untuk berperan aktif dalam tata kelola iklim global dan bersama-sama menjawab tantangan perubahan iklim.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement