Rabu 16 Nov 2022 08:18 WIB

Aktivis Iklim Lempar Cairan Hitam Berminyak ke Lukisan Klimt di Wina

Aktivis menyembunyikan cairan hitam di botol air panas di bawah pakaian mereka.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih
Perubahan iklim. Ilustrasi
Foto:

 
Tim restorasi museum kemudian mengatakan, lukisan itu tidak mengalami kerusakan. Kerusakan justru terjadi pada kaca dan rangka pengaman, serta dinding dan lantai. Direktur Museum Leopold,  Hans-Peter Wipplinger, mengatakan, kekhawatiran para aktivis iklim dapat dibenarkan.
 
Namun, menyerang karya seni merupakan cara yang salah untuk menerapkan tujuan dalam mengatasi krisis iklim. Dia mengimbau kelompok aktivis untuk menemukan cara lain dalam mengkritisi perubahan iklim.
 
Menteri Kebudayaan Austria, Andrea Mayer prihatin dengan tindakan para aktivis iklim yang menyerang karya seni sebagai bentuk protes. “Saya tidak percaya bahwa tindakan seperti ini memiliki tujuan, karena muncul pertanyaan apakah tindakan tersebut lebih mengarah pada kurangnya pemahaman daripada kesadaran akan bencana iklim. Seni dan budaya adalah sekutu dalam perang melawan bencana iklim, bukan musuh," ujarnya.
 
Lukisan karya Klimt adalah lukisan cat minyak di atas kanvas bergaya Art Nouveau yang menggambarkan kematian di sisi kiri dan sekelompok orang yang sebagian telanjang tampak sedang memeluk di sisi kanan.  Itu salah satu karya seni terbaru yang ditargetkan oleh aktivis iklim untuk menarik perhatian pada pemanasan global.
 
Berbagai kelompok aktivis telah melakukan berbagai demonstrasi dalam beberapa bulan terakhir, termasuk memblokir jalan dan melempar kentang tumbuk ke lukisan Claude Monet di Jerman.
 
Bulan lalu, kelompok Just Stop Oil melempar sup tomat ke lukisan "Bunga Matahari" karya Vincent van Gogh di Galeri Nasional London. Aktivis Just Stop Oil juga menargetkan lukisan "The Last Supper" karya Leonardo da Vinci di Royal Academy of Arts London, dan "The Hay Wain" karya John Constable di Galeri Nasional. 

 

 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement