Jumat 13 Jan 2023 23:15 WIB

PBB: Lebih dari 30 Juta Anak di 15 Negara Menderita Kekurangan Gizi

PBB serukan pembiayaan mendesak untuk bantu anak yang menderita gizi buruk

 Anak-anak Yaman berdiri di samping kerabat mereka menunggu untuk mengisi jerigen dengan air dari tangki sumbangan di sebuah kamp Pengungsi Internal (IDP) di pinggiran Sana
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Anak-anak Yaman berdiri di samping kerabat mereka menunggu untuk mengisi jerigen dengan air dari tangki sumbangan di sebuah kamp Pengungsi Internal (IDP) di pinggiran Sana

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Beberapa badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan pembiayaan yang mendesak untuk membantu jutaan anak yang menderita kekurangan gizi akut akibat konflik, guncangan iklim, dampak berkelanjutan dari pandemi Covid-19, dan meningkatnya biaya hidup.

"Saat ini, lebih dari 30 juta anak di 15 negara yang terkena dampak terburuk menderita kekurangan gizi--atau kekurangan gizi akut--dan delapan juta dari anak-anak itu sangat kurus, bentuk kekurangan gizi yang paling mematikan," kata lima badan PBB dalam sebuah pernyataan bersama pada Kamis (12/1/2023).

Kelima belas negara tersebut adalah Afghanistan, Burkina Faso, Chad, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Haiti, Kenya, Madagaskar, Mali, Niger, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, dan Yaman.

Menurut PBB, investasi yang lebih besar diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari krisis yang berkembang ini sebelum terlambat.

PBB juga mengatakan bahwa anak-anak dengan kondisi kekurangan gizi tersebut memiliki sistem kekebalan yang lemah dan berisiko lebih tinggi meninggal akibat penyakit umum pada masa kanak-kanak.

"Delapan juta orang sangat kurus--bentuk kekurangan gizi yang paling mematikan--yang berarti mereka 12 kali lebih mungkin meninggal daripada anak-anak yang cukup makan," ujar PBB.

Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Qu Dongyu mengatakan situasinya kemungkinan akan semakin memburuk tahun ini.

"Kita harus memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan aksesibilitas makanan sehat untuk anak-anak, perempuan, dan ibu hamil dan menyusui. Kita perlu tindakan segera sekarang untuk menyelamatkan nyawa dan mengatasi akar penyebab malnutrisi akut dan bekerja sama di semua sektor," tutur Qu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement