Rabu 01 Feb 2023 12:40 WIB

Hungaria Sebut Swedia Bodoh karena Biarkan Aksi Pembakaran Alquran

Aksi pembakaran kitab suci agama lain adalah hal yang tak dapat diterima.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Sebuah poster dengan gambar Rasmus Paludan dan Edwin Wagensveld digantung di kawat berduri selama unjuk rasa anti-Swedia di luar kedutaan Swedia di Jakarta, Indonesia. Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menyebut Swedia melakukan kebodohan karena mengizinkan aksi pembakaran Alquran oleh politisi sayap kanan Rasmus Paludan di negaranya.
Foto: EPA-EFE/MAST IRHAM
Sebuah poster dengan gambar Rasmus Paludan dan Edwin Wagensveld digantung di kawat berduri selama unjuk rasa anti-Swedia di luar kedutaan Swedia di Jakarta, Indonesia. Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menyebut Swedia melakukan kebodohan karena mengizinkan aksi pembakaran Alquran oleh politisi sayap kanan Rasmus Paludan di negaranya.

REPUBLIKA.CO.ID, BUDAPEST – Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menyebut Swedia melakukan kebodohan karena mengizinkan aksi pembakaran Alquran oleh politisi sayap kanan Rasmus Paludan di negaranya. Menurut Szijjarto, pembiaran atas aksi Paludan menyebabkan Turki menangguhkan pembicaraan tentang aksesi Stockholm ke Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Szijjarto mengatakan, aksi pembakaran kitab suci agama lain adalah hal yang tak dapat diterima. "Sebagai seorang Kristen dan sebagai seorang Katolik, saya harus mengatakan bahwa pembakaran kitab suci agama lain adalah tindakan yang tidak dapat diterima," ucapnya dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Budapest, Selasa (31/1/2023), dikutip laman Daily Sabah.

Baca Juga

Dia kemudian menyinggung komentar Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson yang menilai aksi Rasmus Paludan sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan berbicara. "Menyatakan bahwa pembakaran kitab suci adalah bagian dari kebebasan berbicara merupakan kebodohan," ujar Szijjarto.  

Ia menyarankan Swedia untuk mengambil tindakan berbeda atas aksi pembakaran Alquran jika ingin memperoleh dukungan Turki untuk menjadi anggota NATO. “Jika suatu negara ingin bergabung dengan NATO dan berusaha untuk mendapatkan dukungan Turki, mungkin negara itu harus bersikap sedikit lebih hati-hati,” kata Szijjarto

 

Dia mengungkapkan, parlemen Hungaria akan memutuskan apakah bakal menyetujui aksesi Swedia dan Finlandia ke NATO pada Februari tanpa menyebut tanggal spesifik. “Kami memiliki pendirian yang jelas. Kami mendukung perluasan NATO,” ujarnya.

Turki dan Hungaria adalah dua negara anggota NATO yang masih menolak permohonan aksesi Swedia dan Finlandia ke organisasi pertahanan multilateral tersebut. Seperti disinggung Szijjarto, parlemen Hungaria diperkirakan akan menyetujui permohonan aksesi Helsinki dan Stockholm pada Februari. Sementara itu, Turki tampaknya masih akan mempertahankan penolakannya, khususnya terhadap Swedia.

Dalam pertemuan dengan para pendukung mudanya pada Ahad (29/1/2023) lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menyeru Swedia untuk mengekstradisi orang-orang yang tengah diburu Turki dari negaranya. Menurut Erdogan, orang-orang tersebut adalah para aktor yang terlibat upaya kudeta terhadap pemerintahannya pada 2016 dan tersangka teror dari kelompok milisi Kurdi.

“Jika Anda (Swedia, Red) benar-benar ingin bergabung dengan NATO, Anda akan mengembalikan para teroris ini kepada kami. Anda akan mengirimkan para teroris ini kepada kami sehingga (Swedia) dapat bergabung dengan NATO,” kata Erdogan.

Penolakan Turki terhadap aksesi Swedia ke NATO telah diwarnai aksi pembakaran Alquran oleh politisi sayap kanan berkebangsaan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan. Pada Jumat (27/1/2023) lalu, Paludan untuk kedua kalinya dalam sepekan membakar Alquran di depan sebuah masjid serta Kedutaan Besar Turki di Kopenhagen, Denmark. Aksinya mendapatkan pengawalan kepolisian Denmark. Sebelumnya, pada 21 Januari, dia telah melakukan aksi serupa di dekat Kedutaan Besar Turki di Stockholm, Swedia.

Paludan telah berjanji akan terus membakar Alquran hingga Swedia dan Finlandia memperoleh keanggotaan NATO. “Begitu dia (Erdogan, Red) membiarkan Swedia bergabung dengan NATO, saya berjanji tidak akan membakar Alquran di luar kedutaan besar Turki. Jika tidak, saya akan melakukannya setiap Jumat pukul dua siang,” ujar Paludan setelah melakukan pembakaran Alquran di Kopenhagen.

Aksi pembakaran Alquran oleh Paludan telah memicu protes dan kecaman dari negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Pekan lalu, Turki telah menangguhkan pembicaraan aksesi Swedia dan Finlandia ke dalam NATO. Itu merupakan salah satu reaksi Ankara atas aksi pembakaran Alquran oleh Rasmus Paludan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apakah internet dan teknologi digital membantu Kamu dalam menjalankan bisnis UMKM?

  • Ya, Sangat Membantu.
  • Ya, Cukup Membantu
  • Tidak
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement