Jumat 10 Feb 2023 10:39 WIB

Pemerintah India Desak Warga Ganti Perayaan Valentine dengan Peluk Sapi

14 Februari telah dinyatakan sebagai Hari Memeluk Sapi di India.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Sapi di India
Foto: independent.co.uk
Sapi di India

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Pemerintah India telah mendesak orang-orang untuk mengesampingkan tradisi Hari Valentine. Sebagai gantinya, warga diminta merayakan kesempatan itu dengan berpelukan dengan sapi yang merupakan hewan suci negara itu.

Dalam seruan baru yang dikutip dari The Guardian, 14 Februari telah dinyatakan sebagai Hari Memeluk Sapi di India. Warga didorong untuk memeluk hewan suci dalam agama Hindu yang merupakan agama mayoritas di India.

Menurut pernyataan pemerintah, memeluk sapi akan membawa kekayaan emosional. "Akan meningkatkan kebahagiaan individu dan kolektif kita," ujarnya.

Hari Pelukan Sapi yang baru dideklarasikan ini dimaksudkan untuk mengimbangi pesona peradaban barat. Menurut pemerintah, perayaan itu datang dengan mengorbankan tradisi India yang sudah lebih dulu ada.

Hari Pelukan Sapi adalah inisiatif terbaru oleh pemerintah partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi untuk menjadikan penghormatan terhadap sapi sebagai kebijakan nasional. Sebagian besar negara bagian di India melarang penyembelihan sapi, sedangkan menjual serta memakan daging sapi dilarang di banyak tempat di seluruh negeri, termasuk ibu kotanya, Delhi.

Selama dekade terakhir, ketika ekonomi India telah terbuka, Hari Valentine telah menjadi acara yang semakin populer di kalangan anak muda. Perayaan ini didorong oleh kampanye pemasaran massal yang gencar menampilkan karangan bunga, boneka beruang, hadiah berbentuk hati, dan gerakan romantis lainnya pada tanggal 14 Februari.

Tapi karena bentuk politik nasionalis Hindu yang lebih nasionalis di India, liburan dan tradisi kebarat-baratan seperti Hari Valentine semakin menarik reaksi. Bahkan beberapa pihak ekstrem sayap kanan melakukan kekerasan dalam menanggapinya.

Kelompok ini telah menyerang toko-toko yang menjual kartu dan dekorasi Valentine dan pasangan yang terlihat bergandengan tangan. Sebagian besar retorika anti-Valentine telah ditargetkan pada perempuan dengan menyatakan bahwa liburan tersebut mendorong pergaulan bebas dan perilaku vulgar perempuan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement