Rabu 15 Feb 2023 20:22 WIB

Selain Jakarta, Sekjen PBB Sebut London dan New York Terancam Tenggelam

Beberapa kota besar dalam beberapa tahun berada di bawah permukaan laut

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa naiknya permukaan air laut sudah menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dunia, khususnya di kota-kota di dataran rendah pesisir dan pinggir laut di seluruh dunia. Antonio Guterres menyebut beberapa kota besar bahkan dalam beberapa tahun mendatang sudah berada di bawah permukaan laut.
Foto: EPA-EFE/MAST IRHAM
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa naiknya permukaan air laut sudah menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dunia, khususnya di kota-kota di dataran rendah pesisir dan pinggir laut di seluruh dunia. Antonio Guterres menyebut beberapa kota besar bahkan dalam beberapa tahun mendatang sudah berada di bawah permukaan laut.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa naiknya permukaan air laut sudah menjadi ancaman nyata bagi masyarakat dunia, khususnya di kota-kota di dataran rendah pesisir dan pinggir laut di seluruh dunia. Antonio Guterres menyebut beberapa kota besar bahkan dalam beberapa tahun mendatang sudah berada di bawah permukaan laut.

Guterres mengungkapkan bahwa permukaan air laut telah meningkat pesat sejak tahun 1900. Hal itu ia sampaikan dalam pidato yang gamblang pada debat pertama Dewan Keamanan PBB tentang implikasi naiknya permukaan laut bagi perdamaian dan keamanan internasional.

"Negara-negara seperti Bangladesh, Cina, India, dan Belanda terancam, begitu pula kota-kota besar seperti Bangkok, Buenos Aires, Jakarta, Lagos, London, Los Angeles, Mumbai, Maputo, New York dan Shanghai," ujar Guterres, di dewan PBB, pada Selasa (14/2/2023).

“Bahayanya sangat akut bagi hampir 900 juta orang yang tinggal di zona pesisir pada ketinggian rendah – itu satu dari 10 orang di Bumi,” katanya, dilansir dari Aljazirah, Rabu (15/2/2023).

Perubahan iklim memanaskan planet ini dan mencairkan gletser dan lapisan es yang, menurut NASA, telah menyebabkan Antartika menumpahkan sekitar 150 miliar ton massa es rata-rata setiap tahun, kata Guterres. Tudung es Greenland menyusut lebih cepat dan kehilangan 270 miliar ton per tahun.

"Lautan global telah menghangat lebih cepat selama abad terakhir daripada kapan pun dalam 11.000 tahun terakhir," kata Sekjen PBB.

“Dunia kita meluncur melewati batas pemanasan 1,5 derajat yang dibutuhkan oleh masa depan yang layak huni dan, dengan kebijakan saat ini, sedang meluncur menuju 2,8 derajat – hukuman mati bagi negara-negara yang rentan,” tambahnya.

Negara-negara berkembang, khususnya, harus memiliki sumber daya untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. Dan itu menurut dia, berarti memastikan komitmen keuangan iklim 100 miliar AS untuk membantu negara-negara berkembang.

Sekjen PBB memberikan contoh efek planet yang menghangat dan naiknya permukaan laut pada negara yang membentang dari Pasifik hingga cekungan sungai Himalaya. Dimana pencairan es di Himalaya telah memperburuk banjir di Pakistan, yang terjadi baru-baru ini.

Namun saat gletser Himalaya menyusut dalam beberapa dekade mendatang, sungai Indus, Gangga, dan Brahmaputra yang perkasa juga justru akan menyusut. Menurut Guterres, ratusan juta orang yang tinggal di lembah sungai Himalaya akan menderita akibat naiknya permukaan laut dan intrusi air asin.

“Kami melihat ancaman serupa di Delta Mekong dan sekitarnya. Konsekuensi dari semua ini tidak terpikirkan. Komunitas dataran rendah dan seluruh negara bisa hilang selamanya,” katanya. "Kami akan menyaksikan eksodus massal seluruh populasi dalam skala besar seperti yang pernah disampaikan dalam alkitab.”

Dengan naiknya permukaan laut yang menciptakan arena konflik baru karena persaingan untuk mendapatkan sumber air tawar dan tanah semakin intensif, sekretaris jenderal mengatakan krisis iklim perlu ditangani pada akar penyebabnya. Diantaranya, yakni mengurangi emisi untuk membatasi pemanasan.

Karena itu, menurut dia, memahami kaitan antara ketidakamanan dan perubahan iklim juga memerlukan pengembangan sistem peringatan dini untuk bencana alam. Dan ketentuan hukum dan hak asasi manusia juga diperlukan, terutama untuk menangani pengungsian orang dan kehilangan wilayah. “Hak asasi manusia tidak hilang tapi rumah mereka yang hilang,” kata Guterres.

Pertemuan Dewan Keamanan mendengarkan pembicara dari sekitar 75 negara yang semuanya menyuarakan keprihatinan tentang dampak naiknya air laut, lapor Associated Press.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement