Jumat 03 Mar 2023 17:06 WIB

Jerman Latih Tentara Ukraina Gunakan Senjata IRIS-T

Jerman berjanji untuk mengirim total empat sistem IRIS-T.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Gambar tak bertanggal dari rudal IRIS-T yang terpasang pada jet tempur. Kantor Teknologi Pertahanan dan Pengadaan Federal Jerman (BWB) memerintahkan produksi serial sistem rudal, mengumumkan perusahaan sistem senjata Diehl BGT Defense di Nuremberg, Jerman, Selasa 21 Desember 2004. Pesanan tersebut memiliki volume 1 miliar euro. Rudal udara-ke-udara dirancang untuk digunakan pada jet tempur modern.
Foto:

Ketika para wartawan tiba di tempat pelatihan, radar yang dipasang di truk perlahan-lahan berputar di sebuah bukit kecil. Sementara sekitar selusin tentara Ukraina berdesakan di pos komando IRIS-T.

Dengan menggunakan gambar radar langsung serta simulator, para tentara Ukraina belajar bagaimana memilih target mereka dan menembak jatuh target dengan menekan tombol "FIRE" yang terletak di bawah satu set layar sentuh.

Ketika ditanya tentang perbedaan utama dengan pertahanan udara buatan Soviet seperti S-300 atau Buk, Ukraina menyebutkan efektivitas yang lebih besar tetapi juga kompleksitas yang lebih besar. Seorang pelatih Jerman mengatakan, IRIS-T tidak dapat dioperasikan dengan “menghidupkan dan mematikan sakelar.  

"Di sini Anda memiliki tombol dengan delapan submenu pada layar sentuh," ujar pelatih Jerman itu.

Persiapan sistem IRIS-T tidak memakai waktu lama, yaitu hanya sepertiga dari waktu untuk menyiapkan sistem Patriot. Sistem pertahanan udara mana pun akan memberikan posisinya begitu radar dihidupkan.

Ketika ditanya bagaimana rasanya berada di negara yang damai setelah satu tahun perang, Dmytro dan Myckhailo menggambarkan bahwa mereka berada pada situasi yang aneh. “Tidak biasa melihat dan mendengar pesawat terbang di langit.  Di Ukraina, ruang udara ditutup jika ada yang terbang ke sana, itu bisa berbahaya,” kata Dmytro.

“Secara fisik, sangat nyaman di sini.  Secara mental, kami tidak bisa menikmati situasi ini karena keluarga dan rekan kami berada di Ukraina dan beberapa dari mereka telah meninggal dunia,” tambah Dmytro.

Myckhailo mengatakan, perhatian utamanya adalah keselamatan keluarganya di rumah. Dia tidak memungkiri bahwa ada kenyamanan ketika berada di negara yang damai. 

 

“Hal yang paling menyenangkan adalah bisa tidur selama delapan jam berturut-turut. Tapi kami di sini bukan sebagai turis, ini perjalanan bisnis. Kami akan kembali setelah perang untuk bersantai, saat ada kedamaian. Tapi tidak sekarang, kami adalah tentara," ujar Myckhailo.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement