Jumat 17 Mar 2023 09:54 WIB

Indonesia dan Singapura Teken MoU Kerja Sama Energi Terbarukan

Singapura berpotensi memanfaatkan energi terbarukan dari Indonesia

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) berjabat tangan saat konferensi pers bersama di The Istana di Singapura, Kamis (16/3/2023).
Foto: EPA-EFE/EDGAR SU
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) berjabat tangan saat konferensi pers bersama di The Istana di Singapura, Kamis (16/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Indonesia dan Singapura telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) on Renewable Energy Cooperation. Lewat nota kesepahaman itu, Singapura berpotensi memanfaatkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan hidrogen dari Indonesia.

Penandatanganan nota kesepahaman terkait kerja sama energi terbarukan diteken oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Senior dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura Teo Chee Hean di sela-sela Singapore-Indonesia Leaders’ Retreat, Kamis (16/3/2023).

Baca Juga

“Ini akan memperkuat infrastruktur energi, transisi energi, serta keamanan energi untuk Singapura dan Indonesia, dan juga mendukung inisiatif regional seperti jaringan listrik ASEAN. Ini adalah hasil win-win,” kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dikutip laman the Straits Times.

MoU tersebut akan memungkinkan pengembangan industri dan kemampuan manufaktur energi terbarukan di Indonesia, termasuk fotovoltaik surya (PV) serta sistem penyimpanan energi baterai, yang menyimpan kelebihan daya untuk digunakan nanti. Ini bakal meningkatkan investasi untuk proyek ekspor listrik ke Singapura.

Menurut Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, proyek-proyek itu dapat memasok energi terbarukan ke Indonesia untuk penggunaan domestik dan ekspor energi, termasuk ekspor listrik ramah lingkungan. Bahkan, jika memungkinkan hidrogen dan amonia.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan, kerja sama energi terbarukan itu dapat mendukung pengembangan Koridor Hijau di Kepulauan Riau dan daerah potensial lainnya di Indonesia. Kedua negara akan mempromosikan investasi guna menarik industri yang memanfaatkan energi terbarukan ke Koridor Hijau di Indonesia, termasuk pusat industri, kawasan industri, dan kota pintar.

Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia dan Singapura juga akan bekerja sama untuk memfasilitasi pengaturan komersial dan pengembangan kerangka kerja serta infrastruktur transmisi guna memungkinkan perdagangan listrik lintas batas antara Indonesia dan Singapura. Hal itu dinilai dapat membantu menghasilkan arus masuk modal ke Indonesia.

Menurut laporan the Straits Times, perdagangan listrik lintas batas yang difasilitasi antara kedua negara dapat membantu Singapura mencapai tujuannya untuk mengimpor hingga 4 gigawatt listrik rendah karbon pada tahun 2035. Jumlah itu bakal mengisi sekitar 30 persen dari proyeksi pasokan energi Singapura pada 2035.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan, pemerintah Indonesia dan Singapura sedang meninjau proposal komersial yang menjanjikan dan berpotensi memenuhi persyaratan kedua negara. Proposal yang cocok akan dipilih dan diumumkan pada waktunya. Kedua pemerintah tetap terbuka untuk menerima proposal komersial baru yang dapat memenuhi kebutuhan bersama mereka.

Selama dua tahun terakhir, setidaknya lima perusahaan yang berbasis di Singapura telah menandatangani MoU dengan mitra internasional mereka untuk memfasilitasi impor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura. Pada April 2022, perusahaan energi terbarukan berbasis di Singapura Quantum Power Asia dan mitranya yang berbasis di Jerman, Ib Vogt GmbH, mengatakan investasi sebesar 5 miliar dolar AS akan digunakan untuk membangun fasilitas surya 3,5 gigawatt dan 12 gigawatt fasilitas penyimpanan baterai di Kepulauan Riau.

Jika disetujui Otoritas Pasar Energi Singapura, listrik akan dipasok ke Singapura melalui kabel bawah laut dan dapat beroperasi penuh pada 2032. Perusahaan mengatakan pada saat itu bahwa proyek tersebut dapat memenuhi hingga 8 persen kebutuhan listrik Singapura.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement