Sabtu 18 Mar 2023 16:49 WIB

Putin dan Xi Jinping akan Terbitkan Artikel di Surat Kabar Rusia-Cina

Artikel tersebut akan dimjuat di harian People’s Daily dan Rossiyskaya Gazeta.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
 FILE - Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara satu sama lain selama pertemuan mereka di Beijing, China pada 4 Februari 2022. Xi dan Putin disebut akan menerbitkan artikel di surat kabar yang dikelola pemerintah masing-masing negara, yakni harian People’s Daily dan Rossiyskaya Gazeta.
Foto: Alexei Druzhinin, Sputnik, Kremlin Pool Photo
FILE - Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara satu sama lain selama pertemuan mereka di Beijing, China pada 4 Februari 2022. Xi dan Putin disebut akan menerbitkan artikel di surat kabar yang dikelola pemerintah masing-masing negara, yakni harian People’s Daily dan Rossiyskaya Gazeta.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping diagendakan mengadakan pertemuan di Moskow pada Senin (20/3/2023) pekan depan. Xi dan Putin disebut akan menerbitkan artikel di surat kabar yang dikelola pemerintah masing-masing negara, yakni harian People’s Daily dan Rossiyskaya Gazeta.

“Kedua pemimpin sepakat bahwa mereka akan menerbitkan artikel di People’s Daily dan Rossiyskaya Gazeta. Artikel ini akan diterbitkan pada 20 Maret, hari Senin. Para pemimpin akan menggunakan artikel ini untuk meninjau berbagai masalah yang berkaitan dengan hubungan antara negara kami dan akan memberikan penilaian mereka tentang hubungan ini,” kata Ajudan Presiden Rusia Yury Ushakov, Jumat (17/3/2023), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Ushakov tidak mengetahui apa yang bakal ditulis Xi Jinping dalam artikelnya. Sementara Putin bakal membahas, tidak hanya tentang hubungan bilateral, tapi juga tentang pendekatan Rusia-Cina terkait masalah Ukraina. Nantinya tulisan Putin akan diterbitkan di People’s Daily. Sementara artikel Xi bakal dipublikasikan di Rossiyskaya Gazeta. “Artikel Putin sekarang sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Cina,” kata Ushakov.

Menurut Ushakov, artikel Putin dan Xi memiliki nilai penting karena hal itu menjadi semacam simbol. “Tapi yang lebih penting adalah pembicaraan itu sendiri, yang akan berlangsung pada 20 dan 21 Maret, karena artikel-artikel itu akan memaparkan pendekatan resmi yang diketahui semua orang,” ucapnya.

Dia meyakini pertemuan Putin dan Xi akan memberikan dorongan baru yang kuat untuk pengembangan kerja sama bilateral Rusia-Cina. “Tidak ada pemimpin atau pengikut dalam hubungan antara Rusia dan Cina, karena kedua belah pihak saling percaya,” ujar Ushakov.

Sementar itu, menjelang pertemuan Putin dan Xi, Amerika Serikat telah menyatakan bahwa mereka menolak seruan Beijing untuk menerapkan gencatan senjata di Ukraina. “Kami tentu saja tidak mendukung seruan gencatan senjata yang akan diminta Cina dalam pertemuan di Moskow yang hanya akan menguntungkan Rusia,” ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby, Jumat lalu.

Dia mengingatkan, jika gencatan senjata diterapkan saat ini, hal itu akan secara efektif meratifikasi penaklukan Rusia. “Rusia kemudian akan bebas menggunakan gencatan senjata hanya untuk memperkuat posisi mereka di Ukraina, untuk membangun kembali, mereparasi, dan menyegarkan pasukan mereka sehingga mereka dapat memulai kembali serangan di Ukraina pada waktu yang mereka pilih. Kami tidak percaya ini adalah langkah menuju perdamaian yang adil dan tahan lama,” ucapnya.

Menurut Kirby, Presiden AS Joe Biden berencana untuk melakukan percakapan via telepon dengan Xi Jinping. Namun pengaturan kontak belum dimulai. “Tidak ada jadwal pemanggilan. Sementara Presiden (Biden) telah menjelaskan keinginannya, dia menantikan kesempatan lain untuk berbicara dengan Presiden Xi, kami tidak secara aktif terlibat dalam logistik untuk menyiapkannya sekarang,” katanya.

Pada peringatan satu tahun perang Rusia-Ukraina pada 24 Februari lalu, Cina merilis dokumen bertajuk merilis dokumen bertajuk China’s Position on the Political Settlement of the Ukraine Crisis. Dokumen itu berisi 12 poin usulan Cina untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina.

Ke-12 poin tersebut yakni, menghormati kedaulatan semua negara, meninggalkan mentalitas Perang Dingin, menghentikan permusuhan, melanjutkan pembicaraan damai, menyelesaikan krisis kemanusiaan, melindungi warga sipil dan tahanan perang, menjaga keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir, mengurangi risiko strategis seperti penggunaan senjata nuklir dan senjata kimia, memfasilitasi ekspor gandum, menghentikan sanksi sepihak, menjaga stabilitas industri dan rantai pasok, serta mempromosikan rekonstruksi pasca-konflik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement