Senin 27 Mar 2023 06:45 WIB

PBB Ingatkan Ancaman Kapal Tanker Minyak yang Karam di lepas pantai Yaman

Kapal tanker minyak yang karan ini merupakan kapal lama dari tahun 1976.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Kapal Tanker Minyak (ilustrasi). Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan ancaman bahaya dari sebuah kapal supertanker FSO Safer, yang ditambatkan di lepas pantai Yaman dan berisi lebih dari satu juta barel minyak.
Foto: amveruscg.blogspot.com
Kapal Tanker Minyak (ilustrasi). Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan ancaman bahaya dari sebuah kapal supertanker FSO Safer, yang ditambatkan di lepas pantai Yaman dan berisi lebih dari satu juta barel minyak.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan ancaman bahaya dari sebuah kapal supertanker FSO Safer, yang ditambatkan di lepas pantai Yaman dan berisi lebih dari satu juta barel minyak. Ancaman yang mungkin akan terjadi adalah kapal tanker tersebut akan tenggelam dengan muatan minyak atau bisa meledak kapan saja.

“Kami tidak ingin Laut Merah menjadi Laut Hitam. Itulah yang akan terjadi. Itu adalah kapal lama dari tahun 1976 yang tidak terawat dan kemungkinan akan tenggelam atau meledak kapan saja,” kata David Gressly, koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman, kepada Sky News, dilansir dari Arabnews, Sabtu (25/3/2023).

Baca Juga

“Yang tahu kapal itu, termasuk nakhoda yang biasa mengomandoi kapal itu, bilang itu pasti. Ini bukan pertanyaan 'jika', ini hanya soal 'kapan'."

Mengingat lebih dari satu juta barel minyak di kapal Safer, Gressly mengatakan sangat penting diambil tindakan cepat penyelamatan lingkungan. Dengan pemodelan ilmiah menunjukkan bahwa tumpahan minyak akan menghantam pelabuhan Hodeidah dan Salif di Laut Merah Yaman dalam beberapa hari, tiba-tiba mengakhiri bantuan pangan yang diandalkan oleh 6 juta orang

Selain itu, hal ini akan menyebabkan penghentian impor bahan bakar, yang sebagian besar, penting untuk fungsi pompa dan truk yang memasok air bersih ke sekitar 8 juta orang.

Sementara bencana itu dapat dicegah dengan biaya 130 juta dolar AS. Angka ini sudah dipangkas dari potensi biaya pembersihan sebesar 20 miliar dolar AS.

Menurut PBB, saat ini pihaknya masih kekurangan dana 34 juta dolar AS. PBB bahkan terpaksa menggunakan crowdfunding untuk membeli kapal penyelamat tanker sesuai yang diharapkan, dapat digunakan untuk operasi penyelamatan.

“Ada kerumitan, tetapi bagi sebagian besar negara anggota kesulitan keuangan, ironisnya, apakah ada banyak uang yang tersedia dalam anggaran negara untuk menanggapi keadaan darurat, tetapi tampaknya tidak ada yang memiliki jalur anggaran untuk menghindari bencana,” kata Gressly.

Yaman juga bukan satu-satunya negara yang berisiko, dengan pemodelan yang menunjukkan bahwa tumpahan minyak akan melanda pantai Arab Saudi, Eritrea, dan Djibouti dalam waktu dua hingga tiga minggu, yang menyebabkan dampak lingkungan yang mendalam bagi terumbu karang dan hutan bakau pesisir pantai yang dilindungi.

Dengan ancaman seluruh stok ikan Laut Merah Yaman menghadapi kepunahan, kekhawatirannya adalah dampak terbalik pada jutaan orang yang bergantung pada laut untuk makanan dan mata pencaharian mereka.

Hisham Nagi, profesor ilmu lingkungan di Universitas Sana'a Yaman, mengatakan kepada Sky News bahwa keberadaan kapal tanker minyak yang terletak di dekat terumbu karang yang sangat sehat dan habitat yang bersih dan memiliki banyak spesies organisme laut sangat disayangkan.

“Keanekaragaman hayati tinggi di daerah itu akan terancam, jika tumpahan minyak sampai ke kolom air, akan banyak habitat laut yang sensitif akan rusak parah karenanya.”

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement