Rabu 29 Mar 2023 14:20 WIB

Zelenskyy Undang Xi Jinping Berkunjung ke Ukraina

Zelenskyy mengaku ingin berdialog dengan Xi Jinping

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy stands at attention during the playing of the national anthem during a visit to Okhtyrka in the Sumy region of Ukraine, Tuesday March 28, 2023.
Foto: AP Photo/Efrem Lukatsky
Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy stands at attention during the playing of the national anthem during a visit to Okhtyrka in the Sumy region of Ukraine, Tuesday March 28, 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah mengundang Presiden Cina Xi Jinping untuk berkunjung ke Kiev. Zelenskyy mengaku ingin berdialog dengan pemimpin Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Kami siap untuk melihatnya (Xi) di sini. Saya ingin berbicara dengannya. Saya memiliki kontak dengannya sebelum perang skala penuh. Tapi sepanjang tahun ini, lebih dari satu tahun (setelah konflik), saya tak punya (kontak),” kata Zelenskyy dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Associated Press, dipublikasikan Rabu (29/3/2023).

Baca Juga

Dia kemudian mengomentari tentang keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin yang hendak menempatkan senjata nuklir taktis di negara sekutunya, Belarusia. Zelenskyy berpendapat langkah itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari kurangnya jaminan yang Putin terima dari Cina saat Xi Jinping berkunjung ke Moskow pada 20-21 Maret lalu. “Apa artinya? Artinya kunjungan itu tidak baik untuk Rusia,” ucapnya.

Zelenskyy memperingatkan, Rusia dapat menggalang dukungan internasional untuk kesepakatan yang mengharuskan Ukraina membuat kompromi yang tak dapat diterima. Hal itu hanya bisa dicegah jika Kiev dapat memenangkan pertempuran di yang masih berlangsung di kota-kota utama di front timur.

Dia pun menyinggung tentang pertempuran di Bakhmut. Menurut Zelenskyy, jika kota itu jatuh ke tangan pasukan Rusia, Putin akan menjual kemenangan itu ke Barat, Cina, Iran, termasuk masyarakat Rusia sendiri. “Jika dia merasakan darah, mencium bahwa kami lemah, dia akan mendesak, mendesak, mendesak,” ujar Zelenskyy.

Zelenskyy menyadari, kemampuan Ukraina untuk bertahan sejauh ini, bahkan memenangkan sebagian pertempuran, adalah karena bantuan militer yang signifikan, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat. Saat ini di internal AS, sejumlah politisi mulai mempertanyakan, apakah mereka harus terus memasok bantuan militer untuk Kiev.

Zelenskyy menyadari adanya pertanyaan demikian di AS. “AS sangat memahami bahwa jika mereka berhenti membantu kami, kami tidak akan menang (melawan Rusia),” ucapnya.

Sebelumnya Zelenskyy telah menyampaikan bahwa negaranya sudah mengundang Cina untuk mendiskusikan formula perdamaian guna mengakhiri konflik dengan Rusia. Kiev masih menunggu tanggapan Beijing. “Kami menawarkan Cina untuk menjadi mitra dalam implementasi formula perdamaian. Kami melewati formula kami di semua saluran. Kami mengundang Anda untuk berdialog. Kami menunggu jawaban Anda,” kata Zelenskyy, 21 Maret lalu.

Zelenskyy mengungkapkan, negaranya telah menerima beberapa sinyal terkait undangan yang dikirimkan kepada Cina. “Namun belum ada yang spesifik,” ujarnya.

Keterangan Zelenskyy terkait tawaran kepada Cina untuk menjadi mitra perdamaian disampaikan ketika Xi Jinping mengakhiri kunjungannya ke Rusia. Dalam pertemuannya dengan Vladimir Putin, salah satu isu yang dibahas adalah perihal krisis Ukraina. Pada kesempatan itu Xi menekankan, Cina mempertahankan posisi tidak memihak dalam konflik di Ukraina.

Sementara itu, Putin mengapresiasi rencana perdamaian yang telah disusun dan diterbitkan Cina untuk konflik di Ukraina. “Kami percaya bahwa banyak dari ketentuan rencana perdamaian yang diajukan oleh Cina sejalan dengan pendekatan Rusia dan dapat diambil sebagai dasar penyelesaian damai ketika mereka siap untuk itu di Barat dan di Kiev. Namun, sejauh ini kami tidak melihat kesiapan dari pihak mereka,” ucap Putin 21 Maret lalu.

Pada peringatan satu tahun perang Rusia-Ukraina pada 24 Februari lalu, Cina merilis dokumen bertajuk merilis dokumen bertajuk China’s Position on the Political Settlement of the Ukraine Crisis. Dokumen itu berisi 12 poin usulan Cina untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina.

Ke-12 poin tersebut yakni, menghormati kedaulatan semua negara, meninggalkan mentalitas Perang Dingin, menghentikan permusuhan, melanjutkan pembicaraan damai, menyelesaikan krisis kemanusiaan, melindungi warga sipil dan tahanan perang, menjaga keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir, mengurangi risiko strategis seperti penggunaan senjata nuklir dan senjata kimia, memfasilitasi ekspor gandum, menghentikan sanksi sepihak, menjaga stabilitas industri dan rantai pasok, serta mempromosikan rekonstruksi pasca-konflik.

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement