Jumat 31 Mar 2023 07:18 WIB

Rusia-Korut Dituding Lakukan Barter Senjata dengan Komoditas Pangan

Terdapat dugaan bahwa saat ini kondisi ketahanan pangan di Korut memburuk.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan selama pertemuan mereka di Vladivostok, Rusia pada 25 April 2019.
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko
Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan selama pertemuan mereka di Vladivostok, Rusia pada 25 April 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh Rusia berusaha memperoleh persenjataan dari Korea Utara (Korut) untuk digunakan dalam pertempuran di Ukraina. Washington menyebut ada kesepakatan pemberian bantuan pangan dari Moskow untuk Pyongyang sebagai imbalan pasokan persenjataan dan amunisi.

“Sebagai bagian dari kesepakatan yang diusulkan ini, Rusia akan menerima lebih dari dua puluh jenis senjata dan amunisi dari Pyongyang. Kami juga mengetahui bahwa Rusia menawarkan Korut makanan dengan imbalan amunisi,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby, Kamis (30/3/2023).

Baca Juga

Terdapat dugaan bahwa kondisi ketahanan pangan di Korut memburuk di bawah kepemimpinan Kim Jong-un. Awal bulan ini, Kim berjanji memperkuat kontrol negara atas pertanian dan mengambil serangkaian langkah lain guna meningkatkan produksi biji-bijian.

Pada Kamis lalu, Kantor Pengawasan Aset Luat Negeri Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap Ashot Mkrtychev. Dia adalah warga negara Slovakia yang dituduh memfasilitasi kesepakatan senjata antara Rusia dan Korut. Menurut Departemen Keuangan AS, antara akhir 2022 dan awal 2023, Mkrtychev terlibat dalam mengatur kesepakatan barter antara Moskow dan Pyongyang.

Dalam kesepakatan itu, Korut mengirimkan lebih dari 20 jenis senjata dan amunisi untuk Rusia. Sebagai gantinya, Korut akan memperoleh uang tunai, pesawat komersial, komoditas, dan bahan baku. Mkrtychev bekerja dengan pejabat dari kedua belah pihak untuk membuat kesepakatan itu terjadi. Mkrtychev pun disebut bekerja dengan seorang warga negara Rusia guna menemukan pesawat komersial untuk mengirimkan muatan ke Korut.

“Rusia telah kehilangan lebih dari 9.000 peralatan militer berat sejak dimulainya perang, dan sebagian berkat sanksi multilateral dan kontrol ekspor, (Presiden Rusia Vladimir) Putin menjadi semakin putus asa untuk menggantinya. Skema seperti kesepakatan senjata yang dilakukan oleh individu ini menunjukkan bahwa Putin beralih ke pemasok upaya terakhir seperti Iran dan Korut,” kata Menteri Keuangan AS Janet Yellen dalam sebuah pernyataan.

Mkrtychev ditempatkan dalam daftar hitam sanksi Departemen Keuangan AS. Artinya warga Amerika dan lembaga bisnis seperti bank yang memiliki cabang Amerika dilarang berurusan dengannya.

“Kami tetap berkomitmen untuk menurunkan kemampuan industri militer Rusia, serta mengungkap dan melawan upaya Rusia untuk menghindari sanksi dan mendapatkan peralatan militer dari (Korut) atau negara lain yang siap mendukung perangnya di Ukraina,” kata Janet Yellen.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement