Senin 03 Apr 2023 05:54 WIB

Paris Lakukan Referendum Tentukan Nasib Skuter Elektronik

Warga Paris akan berikan suara untuk memilih akan menyingkirkan atau mendukung skuter

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Aturan Skuter Paris. Pria naik skuter listrik di jalanan kota Paris, Prancis.
Foto: EPA
Aturan Skuter Paris. Pria naik skuter listrik di jalanan kota Paris, Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS  - Ibu kota Prancis akan melakukan referendum kecil-kecilan terkait keberadaan skuter elektronik yang berseliweran di jalan. Keberadaan transportasi itu telah menarik banyak perhatian dan kontroversi.

Warga Paris akan memberikan suara untuk memilih akan menyingkirkan atau mendukung skuter tersebut. Pertanyaan yang diajukan City Hall dalam mini-referendum seluruh kota adalah: "Mendukung atau menentang skuter di Paris?"

Jawaban referendum bisa menghancurkan pasar untuk kendaraan roda dua yang dengan cepat memperluas pilihan transportasi di ibu kota Prancis dan pusat kota serta kota lain di seluruh dunia. Kendaraan ini tersebar di sekitar Paris, mudah ditemukan dan disewa dengan aplikasi yang dapat diunduh dan relatif murah.

Skuter ini menjadi favorit turis yang menyukai kecepatan dan kebebasan menjelajah. Dalam lima tahun sejak kemunculan kendaraan ramping ini, skuter sewaan juga telah menjamur di kalangan warga Paris yang tidak ingin atau tidak mampu membeli sendiri tetapi menyukai pilihan untuk melarikan diri dari Metro dan angkutan umum lainnya.

Tapi di tengah keluhan bahwa skuter elektronik merusak pemandangan dan ancaman lalu lintas, Walikota Paris Anne Hidalgo dan beberapa deputinya ingin menghalau armada beredar bebas. Pemerintah keberatan karena skuter diambil dan diturunkan sesuai keinginan penyewanya, ditambah lagi alasan keselamatan, gangguan publik, dan biaya.

Wakil walikota Paris untuk transportasi David Belliard mengatakan, skuter telah terlibat dalam ratusan kecelakaan. Dia menekankan, kendaraan ini  lebih merusak lingkungan daripada berjalan kaki atau mengendarai sepeda atau bus. Selain itu, skuter elektronik ini terlalu cepat dan anarkis di kota yang padat, berisi, dan bersejarah.

"Skuter menciptakan perasaan tidak aman secara keseluruhan di ruang publik, terutama bagi orang yang paling rentan, saya memikirkan manula atau penyandang disabilitas. Ada beberapa keuntungan tetapi yang saya lihat hari ini adalah biayanya lebih besar," ujar Belliard pada Jumat (31/3/2023).

Kontrak Paris dengan tiga perusahaan persewaan, Dott, Lime dan TIER akan berakhir pada akhir Agustus. Apakah skuter elektronik sewaan bertahan di Paris setelah itu akan bergantung pada jajak pendapat Ahad. Jajak pendapatan ini terbuka untuk semua pemilih terdaftar di kota itu, termasuk mereka yang berasal dari negara-negara Uni Eropa lainnya.

“Apapun hasilnya, kami akan menghormatinya,” janji Belliard.

Kritikus skuter mengatakan mesin-mesin itu sangat berbahaya di tangan turis yang tidak tahu cara menavigasi lalu lintas Paris yang hingar-bingar. Mereka membunyikan klakson, keluar dari jalan, dan banyak pengguna yang melanggar peraturan dan mengambil risiko denda dengan mengendarai dua orang ke skuter dan dengan menaiki trotoar, terkadang meluncur melewati pejalan kaki.

“Saya secara teratur, sebenarnya hampir sepanjang waktu, melihat turis mengendarainya berpasangan, orang-orang yang sering tidak menyadari apa yang mereka lakukan, yang tidak mengendalikan skuternya,” kata Raphael Sicat, seorang manajer TI yang melakukan perjalanan dengan motor listrik ke kantornya di Paris.

Sicat mengatakan, sering melihat kecelakaan yang melibatkan skuter sewaan dalam perjalanan pulang pergi sejauh 40 kilometer.

Tapi turis Swiss bernama Ler Detelj menyukai adrenalin. “Cepat, mudah, dan keren,” katanya saat dia dan dua temannya naik skuter untuk berputar dari kaki Menara Eiffel.

Tiga operator skuter mengatakan,telah  mengangkut hampir dua juta orang di Paris tahun lalu. Sebanyak 71 persen pengguna Paris berusia di bawah 35 tahun.

Perusahaan skuter elektronik telah menggunakan influencer media sosial, beberapa di antaranya berbayar, dan pesan di Facebook, Instagram, Snapchat, dan TikTok dalam kampanye get-out-the-vote yang menargetkan kelompok usia tersebut. Mereka juga menawarkan tumpangan pulang pergi gratis dengan skuter atau sepeda listrik kepada pengguna yang memasukkan kata "Je vote" atau saya memilih dalam bahasa Prancis ke dalam aplikasinya.

Direktur kebijakan publik Lime Garance Lefevre mengatakan, perempuan dan kelompok LGBTQ+ menghargai skuter sebagai mode aman untuk perjalanan larut malam. Kendaraan roda dua itu secara umum sudah mendarah daging dalam kebiasaan orang Paris.

"Kota telah benar-benar meningkatkan standar untuk seluruh industri,” kata Lefevre.

Lefevre menyatakan, Paris telah menjadi pelopor dalam menyambut mobilitas mikro bersama." Paris akan benar-benar menjadi outlier jika memutuskan untuk mengakhiri layanan tersebut," katanya.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement