Rabu 03 May 2023 15:30 WIB

Presiden Iran Penuhi Undangan Bashar al-Assad Kunjungi Suriah

Presiden Iran Raisi dan Bashar al-Assad akan menandatangani sejumlah kesepakatan.

Rep: Kamran Dikarma, Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Iran Ebrahim Raisi memenuhi undangan Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mengunjungi negaranya. Raisi telah mendarat di Damaskus, Rabu (3/5/2023).
Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Presiden Iran Ebrahim Raisi memenuhi undangan Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mengunjungi negaranya. Raisi telah mendarat di Damaskus, Rabu (3/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Presiden Iran Ebrahim Raisi memenuhi undangan Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mengunjungi negaranya. Raisi telah mendarat di Damaskus, Rabu (3/5/2023). Dia menjadi presiden Iran pertama yang menginjakkan kaki di Suriah sejak negara tersebut didera konflik sipil pada 2011.

Menjelang lawatannya ke Damaskus, Raisi menyampaikan kepada lembaga penyiaran al-Mayadeen, kunjungannya bertujuan mengkonsolidasikan dan mengembangkan hubungan dengan Suriah. Dalam kunjungan tersebut, Raisi didampingi sejumlah menteri di kabinetnya, antara lain menteri luar negeri, menteri perminyakan, menteri pertahanan, dan menteri telekomunikasi.

Baca Juga

Menurut media Pemerintah Suriah. Raisi dan Bashar al-Assad akan menandatangani sejumlah kesepakatan. Namun tak dijelaskan secara terperinci di bidang apa saja kesepakatan kerja sama bakal dijalin.

Agenda lawatan Raisi ke Suriah diumumkan pada akhir bulan lalu. "Perjalanan Dr Raisi ke Damaskus pada Rabu depan adalah perjalanan yang sangat penting karena perubahan dan perkembangan yang terjadi di kawasan,” kata kantor berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), dalam laporannya, 30 April lalu.

Perubahan dan perkembangan di kawasan yang disinggung IRNA tampaknya mengacu pada keberhasilan rekonsiliasi antara Iran dan Arab Saudi yang terjadi pada Maret lalu. Kesepakatan itu sangat disambut mengingat kedua negara merupakan pesaing utama di kawasan. Rekonsiliasi Riyadh dengan Teheran segera membuka jalan bagi penyelesaian konflik Yaman.

Setelah memulihkan hubungannya dengan Iran, Saudi memutuskan membuka pintunya untuk berbaikan dengan Suriah. Pada 12 April lalu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Suriah Faisal Mekdad mengunjungi Saudi. Itu menjadi kunjungan pertama menlu Suriah ke Saudi sejak Suriah didera konflik sipil pada 2011.

Saat tiba di Bandara King Abdulaziz, Mekdad disambut Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi Waleed bin Abdulhakim al-Khuraji. Menurut kantor berita Saudi Press Agency (SPA), kunjungan Mekdad adalah pemenuhan undangan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.

Suriah didepak dari Liga Arab ketika konflik sipil pecah di negara tersebut pada 2011. Liga Arab mengecam Bashar al-Assad karena gagal bernegosiasi dengan pihak oposisi dan menggunakan kekuatan militer berlebihan untuk membungkam mereka. Sejak saat itu, Damaskus dikucilkan oleh dunia Arab.

Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi peningkatan keterlibatan antara Suriah dan negara-negara Arab. Bashar al-Assad telah mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman tahun ini.

UEA diketahui memutuskan membuka kembali hubungan diplomatik dengan Damaskus pada akhir 2018. Bulan lalu Suriah dan Tunisia juga mengumumkan bahwa mereka akan membuka kembali misi diplomatik di ibu kota masing-masing.

Pada Maret lalu Saudi juga menyampaikan, mereka telah memulai pembicaraan dengan Suriah tentang melanjutkan layanan konsuler. Serangkaian momen tersebut menjadi penanda bahwa dunia Arab siap merangkul kembali Suriah.

Kendati demikian Qatar sempat menyebut bahwa gagasan kembalinya Suriah ke Liga Arab hanyalah spekulasi. Qatar diketahui merupakan salah satu pendukung kelompok oposisi bersenjata dalam konflik di Suriah.

Perang 12 tahun di Suriah telah merenggut sekitar setengah juta nyawa dan hampir setengah dari populasinya kini menjadi pengungsi atau pengungsi internal. 

sumber : AP/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement