Ahad 07 May 2023 00:15 WIB

Pasukan Bayaran Wagner Mulai Ancam Tarik Dukungan untuk Rusia

Pemilik Wagner memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Pengusaha Rusia  sekaligus pemilik perusahaan militer swasta Rusia Wagner Yevgeny Prigozhin mengancam akan menarik para pasukannya dari pertempuran untuk merebut kota Ukraina timur.
Foto: Sergei Ilnitsky/Pool Photo via AP
Pengusaha Rusia sekaligus pemilik perusahaan militer swasta Rusia Wagner Yevgeny Prigozhin mengancam akan menarik para pasukannya dari pertempuran untuk merebut kota Ukraina timur.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemilik perusahaan militer swasta Rusia Wagner Yevgeny Prigozhin mengancam akan menarik para pasukannya dari pertempuran untuk merebut kota Ukraina timur. Peringatan ini menunjukan munculnya gejolak lain dalam perselisihan dengan militer reguler Rusia.

Prigozhin merupakan pengusaha kaya yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia telah memimpin dorongan untuk memulai serangan di provinsi Donetsk, Ukraina timur. Dia mengancam akan menarik tentaranya dari kota Bakhmut minggu depan, dengan alasan banyak korban dan kekurangan amunisi.

Baca Juga

Siapa sosok Prigozhin yang berani melontarkan ancaman untuk menarik pasukan? Pemimpin kelompok bayaran asal Rusia ini pernah menerima hukuman penjara 12 tahun pada 1981 atas tuduhan perampokan dan penyerangan. Dia memulai bisnis restoran di St. Petersburg pada awal 1990-an setelah dibebaskan dari penjara.

Dalam kapasitas inilah Prigozhin mengenal Putin yang merupakan wakil walikota St. Petersburg saat itu. Dia menggunakan hubungannya dengan Putin untuk mengembangkan bisnis katering dan memenangkan kontrak pemerintah Rusia yang menguntungkan yang membuatnya mendapat julukan "koki Putin".

Prigozhin kemudian memperluas ke area lain, termasuk kantor media dan "pabrik troll" terkenal yang menyebabkan dakwaannya di Amerika Serikat (AS) karena ikut campur dalam pemilihan presiden 2016. Pada Januari 2023, pria berusia 61 tahun itu mengakui mendirikan, memimpin, dan membiayai perusahaan bayangan Wagner.

Wagner pertama kali terlihat beraksi di Ukraina timur segera setelah konflik separatis meletus pada April 2014. Momen ini beberapa minggu setelah pencaplokan Semenanjung Krimea Ukraina oleh Rusia.

Saat mendukung pemberontakan separatis di Donbas, Rusia membantah mengirim senjata dan pasukannya sendiri ke sana, meskipun ada banyak bukti yang bertentangan. Melibatkan kontraktor swasta dalam pertempuran memungkinkan Moskow mempertahankan tingkat penyangkalan tersebut.

Perusahaan Prigozhin disebut Wagner merujuk pada nama panggilan komandan pertamanya Dmitry Utkin. Dia pensiunan letnan kolonel pasukan khusus militer Rusia. Pasukan ini pun segera membangun reputasi untuk kebrutalan dan kekejamannya yang ekstrim.

Personil Wagner juga dikerahkan ke Suriah, dengan dukungan Rusia kepada pemerintahan Presiden Bashar Assad dalam perang saudara. Di Libya, mereka bertempur bersama pasukan komandan Khalifa Hifter. Grup ini juga beroperasi di Republik Afrika Tengah dan Mali.

Beberapa media Rusia menuduh bahwa Wagner terlibat dalam pembunuhan Juli 2018 terhadap tiga jurnalis Rusia di Republik Afrika Tengah yang sedang menyelidiki aktivitas kelompok tersebut. Pembunuhan tetap tidak terpecahkan.

Negara-negara Barat dan pakar PBB menuduh tentara bayaran Wagner melakukan pelanggaran hak asasi manusia di seluruh Afrika, termasuk di Republik Afrika Tengah, Libya dan Mali. Pada Desember 2021, Uni Eropa menuduh kelompok itu melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, termasuk penyiksaan dan eksekusi dan pembunuhan di luar hukum, ringkasan atau sewenang-wenang. Mereka juga melakukan aktivitas destabilisasi di Republik Afrika Tengah, Libya, Suriah, dan Ukraina.

Wagner juga telah mengambil peran yang semakin terlihat dalam perang di Ukraina. Keterlibatan ini akibat pasukan militer reguler Rusia telah mengalami penurunan dan kehilangan kendali atas wilayah.

Prigozhin mengklaim kredit penuh kemenangan pada Januari. Pasukan Wanger merebut kota tambang garam wilayah Donetsk Soledar dan menuduh Kementerian Pertahanan Rusia mencoba mencuri kejayaan Wagner. Pengakuan ini dikemukakan Prigozhin setelah berulang kali mengeluh bahwa militer Rusia gagal memasok Wagner dengan amunisi yang cukup untuk menangkap Bakhmut.

AS memperkirakan Wagner memiliki sekitar 50 ribu personel yang bertempur di Ukraina, termasuk 10 ribu kontraktor dan 40 ribu narapidana yang terdaftar di perusahaan itu. Prigozhin telah mencari rekrutan di penjara Rusia dengan menjanjikan pengampunan kepada narapidana jika selamat dari perang selama setengah tahun tugas garis depan bersama Wagner.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement