Senin 08 May 2023 15:35 WIB

Polisi Periksa Ideologi Pelaku Penembakan Mal di Dallas

Polisi selidiki dugaan pelaku penembakan terkait ideologi supremasi kulit putih

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Dalam cuplikan gambar dari video yang disediakan oleh WFAA ini, orang-orang dievakuasi dari Allen Premium Outlet, Sabtu (6/5/2023), di Allen, Texas. Penegakan hukum menanggapi laporan penembakan di outlet mall, di daerah Dallas.
Foto: WFAA via AP
Dalam cuplikan gambar dari video yang disediakan oleh WFAA ini, orang-orang dievakuasi dari Allen Premium Outlet, Sabtu (6/5/2023), di Allen, Texas. Penegakan hukum menanggapi laporan penembakan di outlet mall, di daerah Dallas.

REPUBLIKA.CO.ID, ALLEN -- Penegak hukum federal Amerika Serikat (AS) menyelidiki apakah pelaku pembunuhan delapan orang di pusat perbelanjaan di Dallas tertarik dengan ideologi supremasi kulit putih. Pihak berwenang mengatakan mereka sedang menjadi motif pembunuhan massal tersebut.

Petugas memperingatkan saat ini penyelidikan masih di tahap awal. Pada Ahad (7/5/2023) seorang agen federal yang tidak bisa disebutkan namanya mengatakan penegak hukum meninjau akun media sosial Mauricio Garcia, 33 tahun, dan unggahannya yang menunjukkan ketertarikan pada pandangan supremasi kulit putih dan neo-Nazi.

Garcia juga mengenakan lambang "RWDS" atau “Right Wing Death Squad” di dadanya saat ditembak polisi. RWDS slogan populer diantara ekstremis kanan dan kelompok-kelompok supremasi kulit putih.

Petugas anonim itu menambahkan selain meninjau unggahan di media sosial, agen-agen federal juga telah mewawancarai anggota keluarga dan rekan Garcia untuk bertanya tentangan ideologinya. Menurut petugas itu penyidik juga meninjau rekaman finansial, unggahan di media daring dan media eletronik Garcia lainnya.

Kepala Kepolisian Allen, Brian Harvey menolak menjawab pertanyaan tentang penyelidikan ini. "Sebenarnya kami tidak punya banyak," katanya.

Departemen Keamanan Masyarakat mengidentifikasi Garcia sebagai pelaku pembunuhan delapan orang di sebuah mal di Texas. Satu hari setelah pembantaian itu dilakukan Garcia ditembak petugas polisi yang kebetulan sedang berada di dekat mal itu.

Petugas penegak hukum mengatakan penyidik telah menggeledah motel dekat persimpangan tempat Garcia menginap. Petugas itu mengatakan polisi juga menemukan beberapa senjata di lokasi tempat Garcia ditembak, termasuk senapan laras panjang AR-15 dan sebuah pistol.

Dua penegak hukum mengatakan investigator juga menggeledah rumah yang memiliki hubungan dengan tersangka. Dua petugas itu menolak disebutkan namanya karena penyelidikan masih berlangsung.

Seorang perempuan yang tinggal tiga rumah dari sebuah rumah bata mengatakan ia melihat sekelompok petugas berseragam masuk ke rumah tersebut pada pukul 18.00 dan 19.00 pada Sabtu (6/5/2023) lalu.

"Mereka masuk dengan sangat cepat dan saya melihat mereka melakukannya dua kali," kata Marsha Alexander.

Ia mengatakan petugas-petugas itu masih berada di sekitar rumah itu ketika ia tidur pada pukul 21.00 sampai 22.00. Para petugas sudah pergi pada Ahad pagi.

Seorang perempuan bernama Julie yang menolak menyebutkan nama belakangnya mengatakan pada Sabtu lalu ia melihat para petugas pada pukul 18.00. Ia melihat empat mobil polisi dan sekelompok petugas di luar rumahnya.

Ia mengatakan mereka masuk ke dalam sebuah rumah dan satu jam kemudian agen-agen FBI dan beberapa orang tak berseragam ikut masuk. Menurut Julie orang-orang tak berseragam itu juga petugas penegak hukum.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement