Kamis 11 May 2023 15:08 WIB

Trump Anggap Vonis Pelecehan Seksual Hanya Candaan

Trump menjadikan vonis pelecehan seksual yang dituduhkan terhadapnya sebagai candaan

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Juri memutuskan Donald Trump bertanggung jawab atas pelecehan seksual terhadap kolumnis E. Jean Carroll tahun 1996.
Foto: AP
Juri memutuskan Donald Trump bertanggung jawab atas pelecehan seksual terhadap kolumnis E. Jean Carroll tahun 1996.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Donald Trump tetap enggan mengakui kesalahannya, dan bersikukuh bahwa vonis pelecehan seksual terhadapnya hanyalah alat untuk menjegalnya dalam proses pencalonan di pemilu presiden AS pada 2024 mendatang. Tidak hanya itu, Trump bahkan menjadikan vonis pelecehan seksual yang dituduhkan terhadapnya sebagai sebuah candaan.

Bantahan Trump itu disiarkan di televisi pada Rabu (10/5/2023). Dalam siaran berdurasi 70 menit yang penuh perdebatan, Trump mengundang tawa penonton di New Hampshire ketika ia mengejek penulis E. Jean Carroll yang mengatakan bahwa ia telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya.

Baca Juga

Trump mengatakan bahwa ia akan mengampuni banyak pendukungnya yang dihukum karena ikut serta dalam serangan terhadap Gedung Kongres AS pada 6 Januari 2021. Trump menyebut moderator CNN, Kaitlan Collins, sebagai "orang yang jahat."

Menanggapi pertanyaan dari Collins dan para hadirin di Saint Anselm College, Trump semakin berposisi ekstrim, dan tidak berusaha menawarkan posisi yang lebih moderat dalam berbagai isu. Dimana menurut para analis politik cara itu adalah kunci untuk memperluas daya tariknya kepada lebih banyak anggota Partai Republik.

Ketika ditanya oleh Collins apakah ia akan mengakui bahwa ia kalah dari Joe Biden dari Partai Demokrat pada tahun 2020, Trump dari Partai Republik menegaskan kembali klaim yang tidak berdasar bahwa pemilu tersebut dicurangi. Ia tetap bersikukuh atas klaim kecurangan tersebut.

"Itu adalah pemilu yang dicurangi," kata Trump, seraya menambahkan bahwa siapa pun yang berpikir sebaliknya adalah "bodoh."

Trump, calon terdepan dalam perebutan nominasi Partai Republik, menolak untuk menyatakan penyesalannya atas serangan yang merusak Gedung Kongres AS. Saat itu ketika para pendukungnya berusaha mencegah Kongres untuk meratifikasi hasil pemilu, dan ia mengulangi rencananya untuk mengampuni individu yang terlibat jika para pemilih mengembalikannya ke Gedung Putih pada tahun 2024.

"Saya cenderung mengampuni banyak dari mereka. Saya tidak bisa mengatakannya satu per satu karena beberapa di antaranya, mungkin, sudah di luar kendali," ujar Trump.

Trump dan Collins sering berbicara satu sama lain dengan Collins menantang sejumlah klaim palsu mantan presiden AS ke 45 tersebut tentang pemilu 2020. Termasuk soal serangan pada 6 Januari yang terjadi setelah pidatonya di depan para pendukungnya di luar Gedung Putih pada hari itu.

"Saya tidak pernah berbicara di hadapan kerumunan orang sebanyak itu, dan itu karena mereka mengira pemilu telah dicurangi. Mereka ada di sana dengan cinta di dalam hati mereka. Itu tidak dapat dipercaya, dan itu adalah hari yang indah," katanya.

Para hadirin saat itu terdiri dari para pendukung Partai Republik dan pemilih independen yang berencana untuk memberikan suara pada pemilihan pendahuluan Partai Republik, dimana pada umumnya mereka sangat mendukung Trump. Mereka memberikan tepuk tangan meriah saat Trump naik ke atas panggung.

New Hampshire merupakan negara bagian yang menjadi nominasi awal yang dapat menjadi penentu dalam upayanya untuk kembali ke Gedung Putih. Menanggapi pernyataan Trump, Komite Nasional Demokrat mengatakan bahwa Trump telah berbohong tentang pemilu 2020.

Komite Partai Demokrat menilai penuh kritik pidato Trump selama 20 menit dan pernyataannya yang menyebut tanggal 6 Januari 2021 sebagai "hari yang indah".

"Ini akan menjijikkan jika tidak begitu berbahaya," kata juru bicara DNC Ammar Moussa dalam sebuah pernyataan.

Pada Selasa, juri federal menemukan bahwa Trump melakukan pelecehan seksual terhadap seorang penulis wanita terkenal, Elizabeth Carroll di sebuah ruang ganti department store di Manhattan pada tahun 1990-an. Kasus ini kemudian merusak reputasinya, namun Trump dengan gampangnya menggambarkan tuduhan itu sebagai "tipuan" dan "kebohongan."

"Wanita macam apa yang bertemu seseorang dan membawanya ke atas dan dalam beberapa menit, Anda bermain sapu tangan di ruang ganti?" Trump mengatakan, salah satu dari banyak komentar meremehkan tentang Carroll yang mengundang tepuk tangan dan tawa. Dia menyebutnya sebagai perilaku yang tidak masuk akal.

Setelah putusan hari Selasa, Carroll mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan, "Hari ini, dunia akhirnya mengetahui kebenarannya... Kemenangan ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk setiap wanita yang menderita karena tidak dipercaya."

Namun Trump tidak hadir dalam persidangan selama dua minggu itu. Ditanya oleh seorang salah seorang tentang apa yang harus ia katakan kepada para pemilih yang mengatakan bahwa hal itu akan mendiskualifikasinya sebagai kandidat calon presiden AS. "Yah, tidak terlalu banyak berpengaruh, karena angka jajak pendapat saya baru saja keluar. Angka mreka naik," kata Trump.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement