Senin 15 May 2023 07:35 WIB

Erdogan Yakin Menang, Andalkan 3,4 Juta Pemilih di Luar Negeri

Pada Pemilu 2018, Erdogan meraih dukungan 60 persen suara pemilih di luar negeri.

Warga memasukkan surat suara saat mengikuti Pemilu di tempat pemungutan suara di Ankara, Turki,  Ahad, (14/5/2023).
Foto: AP Photo
Warga memasukkan surat suara saat mengikuti Pemilu di tempat pemungutan suara di Ankara, Turki, Ahad, (14/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan kepada para pendukungnya di Ankara, dia masih bisa memenangkan pilpres. Namun, ia juga akan menghormati putusan rakyat Turki jika harus meneruskan pertarungan ke putaran kedua pilpres. 

Erdogan menghadapi persaingan ketat dari capres oposisi Kemal Kemal Kilicdaroglu. Menurut kantor berita Anadolu, dari hasil pemungutan suara pada Ahad (14/5/2023) lalu, Erdogan meraih dukungan 49,6 persen suara dan Kilicdaroglu 44,7 persen. 

Jika hasil akhir penghitungan masih menunjukkan kedua kandidat di bawah 50 persen lebih, maka keduanya bertarung di putaran kedua pada 28 Mei mendatang.

Baca juga : Jungkir Balikkan Lembaga Survei, Erdogan Sementara Unggul 49 Persen di Pemilu Turki

‘’Kita belum tahu apakah pilpres ini akan berakhir di putaran pertama. Namun, jika bangsa ini memilih untuk meneruskannya ke putaran kedua, hal itu juga akan saya terima,’’ kata Erdogan kepada para pendukungnya, Senin (15/5/2023) pagi. 

Ia menambahkan, suara pemilih dari warga Turki yang berada di luar negeri masih dihitung. Pada Pemilu 2018, Erdogan meraih dukungan 60 persen suara dari pemilih di luar negeri. Pada pemilu tahun ini, jumlah pemilih luar negeri sebanyak 3,4 juta orang. 

Komisi pemilu Turki, menyatakan, penghitungan suara dari pemilih luar negeri masih dihitung. Makanya, mereka menyatakan belum yakin apakah pilpres putaran kedua. Meski harus ada putaran kedua, Erdogan diyakini bakal menang. 

Howard Eissenstat, associate professor politik dan sejarah Timur Tengah di St. Lawrence University, New York mengatakan, Erdogan berpotensi menang jika masuk putaran kedua pilpres, sebab partainya juga mendapatkan dukungan besar di parlemen pada pemilu Ahad. 

Baca juga : Diprediksi Kalah di Semua Lembaga Survei, Erdogan Malah Unggul

‘’Pemilih tak menginginkan pemerintahan yang terbelah,’’ katanya menegaskan. Erdogan telah memerintah Turki baik sebagai perdana menteri atau presiden sejak 2003. Oposisi berusaha untuk menghentikan langkah Erdogan dalam pemilu ini. 

Di sisi lain, Republican People’s Party (CHP) partai pendukung capres Kilicdaroglu menyatakan data penghitungan suara yang dilansir Anadolu bias. Dari hasil penghitungan itu tampak keberpihakan terhadap Erdogan.

Juru bicara AKP, partai pendung Erdogan, Omer Celik meresponsnya, oposisi berupaya membunuh kehendak rakyat Turki. Ia menyebut mereka sebagai kelompok yang tak bertanggung jawab. 

Baca juga : Erdogan Unggul di Pilpres Turki, Partai Koalisinya Menang Telak di Parlemen

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement