Kamis 01 Jun 2023 14:05 WIB

Pria di India yang Kuras Bendungan demi Ambil HP, Diskors dan Didenda Rp 9,5 Juta

Insiden ini telah memicu kemarahan warga di sekitar bendungan.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Bendungan (ILustrasi). Seorang pria di India menguras bendungan demi mengambil telepon genggamnya.
Foto: Google
Bendungan (ILustrasi). Seorang pria di India menguras bendungan demi mengambil telepon genggamnya.

REPUBLIKA.CO.ID, MUMBAI -- Seorang pria di India yang menguras bendungan demi mengambil telepon genggamnya telah diskors dan didenda 53.092 rupee atau 640 dolar AS (setara Rp 9,5 juta) oleh pemerintah.

Rajesh Vishwas telah jadi berita utama, setelah ia memompa 4 juta liter air tanpa meminta izin dari pihak berwenang. Alasannya, dia telah menjatuhkan smartphone-nya ketika mengambil foto selfie dan mengeklaim bahwa perangkat tersebut harus diambil kembali karena berisi data sensitif milik pemerintah.

Baca Juga

Setelah jadi sorotan, Vishwas dituduh menyalahgunakan posisinya. Vishwas yang bekerja sebagai pegawai negeri di pengawas makanan ini menjatuhkan ponsel Samsung miliknya yang bernilai sekitar 100 ribu rupee, sekitar Rp 18 juta ke dalam Bendungan Kherkatta di negara bagian Chhattisgarh, India Tengah, pekan lalu.

Setelah menyuruh penduduk lokal menyelam dan tidak dapat menemukan ponsel tersebut, Vishwas lalu membayar untuk mendatangkan sebuah pompa diesel. Ia pun mengaku mengurasi bendungan dengan pompa diesel tersebut selama tiga hari, hingga air bendung menyusut secara drastis.

"Dia memompa air tanpa meminta izin resmi. Hal ini tidak dapat diterima," kata pejabat tinggi distrik Chhattisgarh, Priyanka Shukla. Padahal air yang Vishwas buang cukup untuk mengairi setidaknya 1.500 acre (607 hektare) lahan selama musim panas yang terik di India.

Namun, sayang, walau air bendungan sudah berkurang drastis, ponsel belum ditemukan karena terendam di sisa genangan air yang ada. Ketika ponselnya ditemukan, smartphone itu juga sudah tidak dapat berfungsi.

Vishwas mengaku aksinya menguras air bendungan itu dilakukan, setelah ia mendapat izin lisan dari seorang pejabat setempat untuk mengalirkan sejumlah air ke saluran terdekat. "Sebenarnya itu akan menguntungkan para petani yang akan memiliki lebih banyak air," kata dia memberi alasan.

Departemen irigasi di negara bagian ini langsung bersikap atas aksi Vishwas itu, dengan mengirim surat ke pihak berwenang dan menjatuhkan sanksi denda kepada Vishwas. Ia kemudian diskors dari pekerjaannya dan dikenakan denda 53.092 rupee atau 640 dolar AS (Rp 9,5 juta).

Dalam surat itu menyatakan Vishwas telah menyia-nyiakan 4,1 juta liter air (880 ribu galon) untuk kepentingan pribadinya. Pihak berwenang menjelaskan tindakannya adalah 'ilegal' dan dapat dihukum di bawah Undang-Undang Irigasi Chhattisgarh.

Ketika pertama kali dilaporkan, insiden ini telah memicu kemarahan warga di negara bagian ini. Banyak politisi mengkritik tindakan Vishwas ini dan mengatakan air tersebut seharusnya dapat digunakan dengan lebih baik, di negara di mana beberapa wilayah mengalami kekurangan air, terutama pada bulan-bulan musim panas yang terik.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement