Ahad 04 Jun 2023 18:15 WIB

Erdogan Mengganti Hampir Semua Anggota Kabinet

Hanya menteri kesehatan dan kebudayaan yang tidak diganti

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengganti hampir semua anggota kabinetnya kecuali menteri kesehatan dan kebudayaan.
Foto: AP Photo/Ali Unal
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengganti hampir semua anggota kabinetnya kecuali menteri kesehatan dan kebudayaan.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki terpilih, Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (3/6/2023) mengumumkan susunan Kabinet Turki yang baru di Istana Cankaya di ibu kota Ankara, setelah ia dilantik sebagai presiden di parlemen. Erdogan mengumumkan bahwa Cevdet Yilmaz adalah pilihannya sebagai wakil presiden.

Erdogan, yang dilantik untuk masa jabatan presiden yang ketiga pada hari Sabtu, mengganti hampir semua anggota kabinetnya kecuali menteri kesehatan dan kebudayaan. Diantaranya, Erdogan mengangkat seorang mantan bankir yang disegani di dunia internasional menduduki jabatan ekonomi tertinggi yakni menteri keuangan sementara kepala intelijen Turki diangkat menjadi menteri luar negeri.

Baca Juga

Erdogan menunjuk mantan menteri ekonomi dan mantan bankir, Mehmet Simsek, sebagai menteri keuangan dan bendahara negara. Simsek sangat dihormati oleh para investor ketika ia menjabat sebagai menteri keuangan antara tahun 2009 dan 2015 dan wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi hingga 2018, sebelum akhirnya ia mengundurkan diri karena jatuhnya nilai Lira pada saat itu.

Penunjukannya dapat menandai perubahan dari kebijakan ekonomi yang tidak biasa selama bertahun-tahun di bawah Erdogan, termasuk mempertahankan suku bunga rendah meskipun inflasi melonjak dan kontrol negara yang besar terhadap pasar. Sebagai mantan ekonom Merrill Lynch, Simsek dikenal menentang kebijakan-kebijakan Erdogan yang tidak konvensional.

Turki sedang bergulat dengan krisis biaya hidup dan inflasi yang melonjak hingga 85 persen di bulan Oktober sebelum turun menjadi 44 persen di bulan Mei. Mata uang lira telah kehilangan lebih dari 10 persen nilainya terhadap dollar sejak awal tahun ini.

Sementara itu, Hakan Fidan, Kepala Intelijen Erdogan dan seorang mantan tentara, ditunjuk sebagai menteri luar negeri Turki yang baru menggantikan Mevlut Cavusoglu, yang telah menjabat sebagai menteri luar negeri sejak tahun 2014. Salah satu pembantu terdekat Erdogan, Fidan telah mengepalai Organisasi Intelijen Nasional (MIT) sejak tahun 2010 dan sebelumnya adalah penasihat Erdogan di kantor perdana menteri.

Pada tahun 2012, Fidan menjadi subjek penyelidikan, yang kemudian dibatalkan, atas pembicaraan damai rahasia yang dilakukan MIT dengan kelompok bersenjata terlarang Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Oslo.

Selain itu, Yasar Guler, kepala staf umum angkatan bersenjata Turki, diumumkan sebagai menteri pertahanan, menggantikan Hulusi Akar. Pria berusia 69 tahun ini adalah kepala militer selama serangan militer Turki ke Suriah pada tahun 2019 dan 2020, dan mengawasi operasi militer berikutnya di sana dan di Irak.

Erdogan juga mengumumkan bahwa Cevdet Yilmaz akan menjadi wakil presidennya. Yilmaz sebelumnya menjabat sebagai menteri pembangunan, wakil ketua Partai Adalet ve Kalkınma (Partai Keadilan dan Pembangunan, AK Party) Erdogan dan wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi.

Yilmaz, 56 tahun, adalah ketua Komisi Perencanaan dan Anggaran Parlemen Turki sejak November 2020. Ziya Meral, rekan senior di European Leadership Network, menggambarkan Fidan, Guler, dan Yilmaz sebagai "orang-orang yang dapat diandalkan Erdogan".

"Pesan dari semua ini untuk 10 bulan ke depan, dan jika tidak, untuk beberapa tahun ke depan adalah bahwa Erdogan akan berfokus pada penguatan terhadap oposisi politik, mengatasi beberapa masalah yang hampir membuat mereka kalah dalam pemilihan ini dan mengejar visinya untuk abad baru Republik ini," kata Meral kepada Al Jazeera.

"Dan dia memberikan semua portofolio kunci ini kepada orang-orang yang dia percayai untuk melaksanakannya," ujarnya.

Turki melakukan pemungutan suara kedua pada tanggal 28 Mei untuk pemilihan presiden, yang kembali dimenangkan oleh Erdogan. Pemilihan kedua itu dilakukan setelah tidak ada kandidat yang mendapatkan lebih dari 50 persen suara yang dibutuhkan, untuk kemenangan langsung pada putaran pertama pada 14 Mei lalu.

Erdogan memenangkan pemilihan dengan 52,18 persen suara, sementara kandidat oposisi Kemal Kilicdaroglu mendapatkan 47,82 persen, menurut hasil resmi. Juga pada tanggal 13 Mei, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK), yang diketuai oleh Erdogan, muncul sebagai partai teratas di parlemen, dengan total 268 kursi.

Selain Partai AK, mitra Aliansi Rakyatnya, Partai Gerakan Nasionalis (MHP) meraih 50 kursi dan Partai Kesejahteraan Baru (YRP) meraih lima kursi, mengamankan mayoritas gabungan 323 kursi dari total 600 kursi di parlemen. Dengan 169 wakil, Partai Rakyat Republik (CHP), bersama dengan mitra koalisinya, Partai Baik (IYI), mendapatkan total 212 kursi di parlemen, mewakili Aliansi Rakyat yang beroposisi.

Sisa 65 kursi parlemen dimenangkan oleh Aliansi Buruh dan Kebebasan, yang terdiri dari Partai Kiri Hijau dengan 61 kursi dan Partai Buruh Türkiye (TIP) dengan empat kursi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement