Senin 05 Jun 2023 09:30 WIB

Khamenei: Iran tak akan Kompromi dengan Barat

Khamenei membela pendekatan keras negaranya terhadap Barat.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Ferry kisihandi
Warga Iran memegang gambar pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merayakan 44 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran, Iran, (11/2/2023).
Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Warga Iran memegang gambar pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merayakan 44 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran, Iran, (11/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membela pendekatan keras pemerintahan negaranya terhadap Barat. Kompromi, dianggapnya hanya akan mengundang permusuhan lebih lanjut dari musuh-musuh Iran. 

Ia bahkan menyalahkan para demonstran yang selalu protes anti-pemerintah baru-baru ini, dengan menyebut mereka "preman dan penjahat.’’ Pernyataan Khamenei pada Ahad (4/6/2023), mencuat di tengah kebuntuan dengan negara Barat terkait program nuklir Iran. 

Negara para Mullah itu, kini telah membuat kemajuan besar dalam lima tahun terakhir, sejak Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian internasional yang membatasi program nuklir Iran. Bahkan Iran diyakini memiliki fasilitas nuklir baru di bawah tanah. 

Fasilitas ini diyakini tak bisa ditembus rudal biasa sehingga relatif aman dari serangan. Hingga kini, AS belum kembali ke kesepakatan yang diteken pada 2015 itu. 

Trump mengembalikan sanksi-sanksi yang bisa melumpuhkan Pemerintah Iran. Dampak sanksi itu mengakibatkan krisis ekonomi yang parah tetapi kondisi itu, tetap bisa membuat pemimpin Iran melakukan perlawanan. 

Hal inilah yang membuat Iran memberikan dukungan pada invasi Rusia ke Ukraina, memasok drone bersenjata yang telah mendatangkan malapetaka di ibu kota Ukraina, Kiev.

"Beberapa orang keliru dengan berpikir jika mundur dari sikap kami dalam kasus-kasus tertentu, itu akan membuat permusuhan AS, arogansi global, atau Israel terhadap kami berkurang. Itu kesimpulan yang salah,’’ ujar Khamenei.

Dia berbicara pada pidato tahunan yang menandai wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendahulunya dan pendiri Republik Islam Iran. 

Khamenei menyinggung protes nasional pada musim gugur lalu yang dipicu kematian perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, yang telah ditahan oleh polisi moralitas karena diduga melanggar aturan berpakaian yang ketat di negara itu.

Protes meningkat menjadi seruan untuk menggulingkan Republik Islam sebelum tindakan keras memadamkannya. Pihak berwenang Iran menuding aksi massa itu buah konspirasi asing tanpa memperkuat pandangannya itu dengan bukti. 

Para demonstran mengatakan mereka memprotes penindasan dan salah urus ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun. 

"Menurut rencana, mereka mengira Republik Islam telah tamat dan mereka dapat menjadikan bangsa Iran sebagai budak. Orang-orang bodoh ini, sekali lagi, salah. Sekali lagi, mereka gagal mengenal rakyat kita," ujar Khamenei. 

 

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement