Kamis 29 Jun 2023 09:08 WIB

Penjualan Unta di Pakistan Tersendat Akibat Inflasi

Daya beli masyarakat sudah habis, warga tak mampu beli hewan kurban

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Para pedagang memegang unta mereka sambil menunggu pelanggan di pasar ternak menjelang hari raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, di Lahore, Pakistan
Foto: AP/K.M. Chaudary
Para pedagang memegang unta mereka sambil menunggu pelanggan di pasar ternak menjelang hari raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, di Lahore, Pakistan

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Ratusan petani Pakistan telah berkemah di pasar ternak di seluruh Pakistan selama berminggu-minggu, berharap bisa menjual hewan sebelum Idul Adha yang jatuh pada Kamis (29/6/2023). Salah satunya, remaja bernama Amanullah Khan yang sedang berjinjit, memulas unta yang menjulang tinggi dengan pola henna meriah untuk menarik pelanggan.

Namun, dengan inflasi yang merajalela dengan rekor 38 persen pada bulan Mei, pasar menarik lebih sedikit pengunjung. Padahal, sepupu Khan, Zakaria, membawa 18 unta ke pasar setelah mendapat untung besar tahun lalu, tetapi sejauh ini hanya menjual satu unta.

Baca Juga

“Daya beli masyarakat sudah habis. Pelanggan tidak datang ke pasar, dan mereka yang datang lebih suka pulang dengan tangan kosong karena mahalnya harga hewan,” kata pria berusia 21 tahun itu dikutip dari Aljazirah.

Perayaan penyembelihan hewan kurban itu sudah berusia berabad-abad. Tapi tahun ini, banyak orang Pakistan kelas menengah tidak akan bisa berkurban.

“Pendapatan kami sama tapi harganya setinggi langit. Dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu?” ujar pembeli Ali Akbar.

Pelanggan lain Zerak Ali datang untuk menanyakan tentang harga seekor unta, yang harganya bisa mencapai satu juta rupee. “Ini bernilai 700.000 [rupee] untukmu,” barter Zakaria.

Tapi, penjaga toko berusia 56 tahun itu pun pergi, membawa kedua cucunya menuju kandang sapi jantan yang lebih murah. Kurban unta tidak umum di Pakistan, tetapi beberapa pembeli yang lebih kaya lebih memilih hewan itu karena 11 keluarga dapat berbagi dagingnya.

Lebih dari 250 unta telah dibawa ke pasar Islamabad, bersama dengan ribuan sapi jantan, sapi, kambing, dan domba. Harga kambing jantan mencapai 500.000 rupee, sedangkan harga kambing berkisar antara 50.000 hingga 150.000 rupee.

Keuntungan Zakaria terpotong pajak pasar, kenaikan harga pakan ternak, dan sewa truk, serta gaji staf. “Saya akan kehilangan jutaan rupee tahun ini,” ujarnya memprediksi dengan murung.

Perayaan Idul Adha dimulai sehari sebelum batas waktu bagi Pakistan untuk mengamankan program bailout 6,5 miliar dolar AS dengan Dana Moneter Internasional (IMF) berakhir pada 30 Juni. Laporan media lokal pada Rabu mengatakan, pemerintah Pakistan sedang mendiskusikan pengaturan siaga senilai 2,5 miliar dolar AS selama enam hingga sembilan bulan. Dana ini berasal dari pemberi pinjaman global untuk mencegah gagal bayar.

Dengan waktu yang hampir habis, Menteri Keuangan Ishaq Dar mengatakan pada Selasa (27/6/2023), kedua belah pihak sedang mengerjakan sebuah mekanisme. Tindakan ini untuk memastikan bahwa Pakistan mendapatkan seluruh dana senilai 2,5 miliar dolar AS dan bukan hanya mendekati 1,1 miliar dolar AS yang jatuh tempo dalam tinjauan saat ini.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif membahas penandatanganan pengaturan siaga baru (SBA) senilai 2,6 miliar dolar AS untuk jangka pendek enam bulan dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. Surat kabar Dawn Pakistan melaporkan, SBA adalah salah satu opsi yang dibahas untuk mengakses dana yang tertunda setelah berakhirnya Extended Fund Facility (EFF).

Negara Asia Selatan ini sangat membutuhkan pembiayaan eksternal dan telah mengalokasikan 2,5 miliar dolar AS untuk dukungan IMF dalam anggaran tahunannya. Sharif mengharapkan kesepakatan dalam satu atau dua hari. Pemberi pinjaman mengatakan sedang mengadakan pembicaraan dengan tujuan segera mencapai kesepakatan tentang dukungan keuangan dari IMF.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement