Selasa 04 Jul 2023 17:50 WIB

Arab Saudi dan Rusia Kembali Sepakati Pemangkasan Pasokan Minyak

Arab Saudi dan Rusia berebut meningkatkan pendapatan dari bahan bakar minyak

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Seorang fotografer mengambil gambar ladang minyak Khurais. Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pemotongan jumlah produksi minyak kedua negara.
Foto: AP Photo/Amr Nabil
Seorang fotografer mengambil gambar ladang minyak Khurais. Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pemotongan jumlah produksi minyak kedua negara.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pemotongan jumlah produksi minyak kedua negara. Hal ini demi menaikkan harga minyak dunia. Kedua negara produsen minyak terbesar di dunia ini, berebut untuk meningkatkan pendapatan dari produk bahan bakar fosil, bahkan ketika permintaan telah melemah seiring dengan melemahnya ekonomi.

Kesepakatan itu dikeluarkan di pertemuan terakhir koalisi negara produsen untuk peningkatkan harga minyak. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa harga bensin di AS bisa naik sewaktu-waktu.

Kementerian Energi Saudi mengatakan akan memperpanjang pemangkasan 1 juta barel per hari di bulan Juli hingga Agustus untuk mendukung "stabilitas dan keseimbangan pasar minyak mentah dunia." Hal ini akan menjaga produksi negara Teluk ini tetap di angka 9 juta barel per hari.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa negaranya akan memangkas produksi sebesar 500.000 barel per hari di bulan Agustus, menurut laporan-laporan berita Rusia.

Pengurangan kuota produksi secara sukarela ini dilakukan di atas pemangkasan sebelumnya yang telah disepakati oleh negara produsen minyak OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi, dan para produsen sekutunya, yang dipimpin oleh Rusia, untuk diperpanjang hingga tahun depan.

Saudi merasa pemangkasan lain diperlukan memperkuat prospek permintaan bahan bakar yang tidak pasti dalam beberapa bulan ke depan, bahkan ketika perjalanan meningkat. Saudi juga membutuhkan pendapatan minyak yang tinggi untuk mendanai proyek-proyek pembangunan ambisius yang bertujuan untuk mendiversifikasi ekonomi negara.

Sementara Rusia ingin meningkatkan keuntungannya untuk membiayai perangnya melawan Ukraina. Sanksi-sanksi Barat membuat Moskow terpaksa menjual minyaknya dengan harga diskon ke negara-negara seperti Cina dan India. Perkiraan pendapatan ekspornya turun 1,4 miliar dolar AS menjadi 13,3 miliar dolar AS di bulan Mei, turun 36 persen dari tahun lalu, Badan Energi Internasional mengatakan dalam sebuah laporan bulan lalu.

Dikombinasikan dengan pemangkasan sebelumnya, produksi Rusia di bulan Agustus akan berkurang 1 juta barel per hari. Namun Rystad Energy mengatakan pada bulan Juni bahwa Moskow hanya menurunkan produksi sebesar 400.000 barel pada bulan Mei, dan bukannya setengah juta barel yang dijanjikan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement