REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menerima kunjungan perdana Menlu Portugal Joao Gomes Cravinho ke Indonesia, Senin (24/7/2023). Dalam pertemuannya, mereka membahas sejumlah isu bilateral, regional, dan global.
"Ini adalah sebuah kehormatan dan kegembiraan bagi saya berada di sini, di Jakarta, mengadakan pembicaraan bilateral dengan mitra saya, Menteri Retno Marsudi," kata Cravinho saat memberikan keterangan pers bersama Retno Marsudi di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri.
Cravinho mengungkapkan, Indonesia dan Portugal memiliki potensi besar dalam hubungan bilateral. Menurutnya, potensi tersebut lebih besar dari yang kedua negara sadari di masa lalu. Di bidang ekonomi, Portugal ingin mempererat hubungannya dengan Indonesia.
"Melihat masa depan, kita mempunyai kesempatan untuk fokus pada isu-isu seperti energi terbarukan, yang mana merupakan bagian fundamental dari transisi hijau yang sedang dilalui Indonesia dan Portugal. Dan tentu saja ekonomi biru berkelanjutan yang bagi negara saya dan juga bagi Indonesia, penting untuk masa depan kita," ucap Cravinho.
Dia menambahkan, dengan fokus pada dua sektor tersebut, Portugal dan Indonesia dapat mengembangkan kepentingan bersama dalam tahun-tahun hingga dekade mendatang. Cravinho juga menekankan bahwa Portugal sangat mendukung perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA).
"Saya percaya (perjanjian kerja sama) ini sangat penting untuk hubungan ekonomi, perdagangan, investasi antara Indonesia dan Uni Eropa," ujar Cravinho.
Sementara itu dalam pernyataannya Retno Marsudi mengaku merasa terhormat dapat menerima kunjungan perdana Cravinho ke Indonesia. “Sungguh suatu kehormatan bagi saya menerima kunjungan pertama Menlu Portugal ke Indonesia dalam lebih dari satu dekade. Kunjungan Anda menciptakan momentum baru bagi kedua negara untuk semakin mempererat hubungan bilateral,” ucapnya.
Retno mengungkapkan, terkait hubungan bilateral, terdapat beberapa hal yang dibahasnya bersama Cravinho. Pertama tentang investasi. Dia mengatakan, investasi Portugal tumbuh signifikan, yakni sebesar 2.000 persen dari 2019 hingga 2022. “Memang ini adalah rekor tertinggi,” ucapnya.
Investasi pada energi terbarukan dan ekonomi biru dibahas sebagai sektor prioritas. Menurut Retno, dia dan Cravinho memiliki pandangan sama tentang pentingnya mempercepat penyelesaian negosiasi perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa.
Hal kedua yang dibahas yakni tentang kerja sama kelapa sawit. Retno mengatakan, dia menghargai kepercayaan Portugal terhadap minyak sawit dari Indonesia. Impor minyak sawit oleh Portugal dari Indonesia meningkat sebesar 77 persen dari 2019 hingga 2022. Retno menyebut, kenaikan itu dipicu oleh insentif impor turunan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
“Saya menegaskan kembali selama percakapan (dengan Cravinho) keprihatinan saya pada sejumlah kebijakan diskriminatif yang diambil oleh Uni Eropa termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR),” ucap Retno.
Hal ketiga yang dibahas Retno dan Cravinho adalah tentang kerja sama energi. “Kami menyambut baik proyek tenaga surya terapung EDP di Waduk Duriangkang, Kepulauan Batam. Proyek ini bernilai total 2 miliar dolar AS dan dapat berfungsi sebagai katalis untuk lebih banyak investasi Portugal dan energi terbarukan kita,” ungkap Retno.
Retno dan Cravinho turut membahas kerja sama maritim. “Kami membahas kontribusi awak kapal penangkap ikan Indonesia terhadap ekonomi maritim Portugal. Ada lebih dari 300 dari mereka,” ucap Retno.
“Kami membahas langkah-langkah untuk menjaga kepentingan mereka termasuk melalui sertifikasi dan peningkatan kapasitas. Kami juga menjajaki kolaborasi dalam ekonomi biru, perikanan, dan memerangi IUU Fishing,” tambah Retno.
Selain hubungan bilateral, Retno dan Cravinho turut membahas isu regional serta global, salah satunya terkait prioritas keketuaan Indonesia di ASEAN. Retno menekankan Indonesia akan berusaha sekuat tenaga menjadikan ASEAN penting dan membuat kawasan Asia Tenggara sebagai episentrum pertumbuhan.
“Saya juga berbagi tekad Indonesia untuk menjadikan Indo-Pasifik sebagai kawasan perdamaian dan stabilitas,” kata Retno.