Rabu 26 Jul 2023 20:13 WIB

Cina: Pusat Data Gempa Diserang Peretas dari Amerika Serikat

Awal Juli ini Microsoft mengatakan peretas Cina menyusup ke email pejabat senior AS.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Hacker (ilustrasi)
Foto: pixabay
Hacker (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah Kota Wuhan, Cina, mengatakan pusat pemantau gempa di kota itu mengalami serangan siber. Pemerintah mengatakan serangan berasal dari luar negeri.

Pada Kamis (26/7/2023) media pemerintah Cina termasuk, Global Times dan akun stasiun televisi, CCTV, mengklaim serangan itu berasal dari Amerika Serikat (AS) dan didukung pemerintah. Kedutaan Besar AS di Beijing belum menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga

Dalam pernyataannya Biro Penanggulangan Darurat Kota Madya Wuhan mengatakan beberapa perangkat jaringan di Pusat Pemantau Gempa Wuhan diserang oleh organisasi dari luar negeri. Biro tidak mengungkapkan kapan serangan tersebut dilakukan.

Media Cina, China Daily, melaporkan program pintu belakang, yang dapat mengendalikan dan mencuri data aktivitas seismik, dimasukan ke dalam perangkat tersebut. Kementerian Luar Negeri Cina mengecam serangan itu dengan menyebutnya sebagai aksi "tidak bertanggung jawab" yang mengancam keamanan nasional Cina.

"Cina akan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi keamanan siber," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Mao Ning dalam konferensi pers rutin.

Pada awal bulan Microsoft mengatakan peretas Cina menyusup ke email-email pejabat senior AS. Beijing membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "informasi palsu."

Pekan lalus surat kabar AS, The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan peretas yang berhubungan dengan Cina mengakses akun email duta besar AS untuk Cina. Peretasan ini dianggap bagian dari operasi spionase yang melibatkan ratusan ribu email pemerintah AS.

WSJ mengatakan email Asisten Menteri Luar Negeri untuk Wilayah Asia Timur Daniel Kritenbrik juga diretas dalam operasi spionase yang diungkapkan Microsoft pada bulan ini. Surat kabar itu mengutip sejumlah orang yang mengetahui perihal peretasan.

Departemen Luar Negeri AS menolak menjawab pertanyaan tentang peretasan akun dua diplomat. Departemen mengatakan penyelidikan mengenai operasi spionase itu masih berjalan.

Duta Besar AS untuk Cina Nicholas Burns merujuk pernyataan Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada bulan ini ketika ia mengatakan AS "dengan tegas konsisten pada Cina serta negara-negara lainnya, setiap tindakan pada Pemerintah atau perusahaan AS, warga negara AS, merupakan perhatian besar pemerintah AS dan akan mengambil tindakan yang tepat dalam meresponnya."

Juru bicara Duta Besar Cina di Washington mengatakan Cina konsisten menentang peretasan dan membantah spekulasi "tanpa dasar" mengenai sumber serangan siber.

"Cina dengan tegas menentang dan melawan serangan siber dan pencurian siber dalam segala bentuk. Posisi ini konsisten dan jelas," kata juru bicara Kedutaan Cina di AS Liu Pengyu dalam responnya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement