Sabtu 29 Jul 2023 05:45 WIB

Bagaimana Anak Muda Rusia Melihat Kehidupan dan Masa Depan Mereka

Beberapa pemuda berbicara rencana studi dan pekerjaan yang tampaknya tak bisa diraih

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Beberapa pemuda Rusia berbicara tentang rencana studi dan pekerjaan yang tampaknya tidak dapat digapai.
Foto: AP/Dmitri Lovetsky
Beberapa pemuda Rusia berbicara tentang rencana studi dan pekerjaan yang tampaknya tidak dapat digapai.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pada suatu hari di bulan Juli yang hangat di ibu kota Rusia, pasangan muda berjalan bergandengan tangan di sepanjang sungai Moskva saat perahu wisata melintas ke hilir, dan menara Kremlin menyembul dari balik puncak pohon. Empat pemuda Rusia menceritakan tentang kehidupan mereka setelah dimulainya operasi militer khusus ke Ukraina pada Februari 2022.

 

Baca Juga

Keempat pemuda ini lahir sekitar pergantian milenium, ketika Presiden Vladimir Putin naik ke tampuk kekuasaan. Para pemuda itu tidak mengenal Rusia, selain Rusia yang berada di bawah kepemimpinan Putin.

 

Beberapa pemuda berbicara tentang rencana studi dan pekerjaan yang tampaknya tidak dapat digapai. Sementara yang lainnya berbicara tentang ketakutan dengan masa depan yang  tidak dapat diprediksi. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mengatakan bahwa mereka akan melakukan revolusi untuk mempengaruhi arah Rusia. Seorang pemuda mengatakan, tidak ada yang bisa dilakukan selain menyesuaikan diri dengan realitas baru.

 

Sabina (23 tahun), lahir di Moskow dari keturunan Abkhaz. Dia mengambil studi jurnalisme data di Sekolah Tinggi Ekonomi Moskow. Sabina mengatakan, sebelum invasi Rusia ke Ukraina, dia memiliki cita-cita untuk kuliah di luar negeri. Namun dengan situasi saat ini, Sabina mengurungkan cita-citanya untuk menempuh pendidikan di negara lain.

 

"Saya ingin mendaftar di universitas di Finlandia tetapi terus menundanya, meskipun saya sangat menginginkannya. Sekarang sepertinya saya tidak boleh pergi kemana-mana.  Tidak tanpa keluarga saya. Mungkin saya bisa pergi (ke luar negeri), tapi siapa yang tahu apa yang terjadi selanjutnya (dengan keluarga saya).  Sesuatu mungkin terjadi pada mereka jika mereka tidak meninggalkan negara bersama saya," ujar Sabina.

 

Sabina mengatakan, tampaknya sekarang warga Rusia sedang membuat pilihan di sisi perbatasan mana mereka tinggal. "Anda berada di satu sisi atau sisi lainnya. Dan itu adalah pilihan terakhir," ujar Sabina.

 

Sementara itu, pemuda lainnya Maxim Lukyanenko (20 tahun) seorang siswa dari Krasnodar di Rusia selatan, mengambil studi bahasa asing dan komunikasi antar budaya di Sekolah Tinggi Ekonomi. Lukyanenko merupakan pendiri 'White Raven,' sebuah organisasi patriotik dan pro-militer.

 

"Saya memiliki sudut pandang yang optimis, jadi bagi saya ini adalah kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Eropa telah ditutup (untuk kita), mari arahkan pandangan kita ke Asia. Ada banyak hal hebat di sana," ujar Lukyanenko.

 

Lukyanenko berencana untuk mengambil program master di Cina. Dia berpendapat Rusia perlu memperkuat hubungan dengan Cina. Menurut Lukyanenko, Cina adalah negara dengan orang-orang hebat dan menarik.

 

"Saya berencana untuk belajar program master di Cina. Saya pikir mereka adalah orang-orang yang sangat menarik, bangsa yang menarik. Secara umum, Rusia memang perlu memperkuat hubungan dengan Cina. Mereka adalah orang-orang top, kita perlu belajar sesuatu dari mereka. Dan untuk mengajari mereka sesuatu, tentu saja," ujar Lukyanenko.

 

Seorang mahasiswa jurusan biologi di Moscow State University, Konstantin Konkov (23 tahun), tahun lalu terpilih sebagai kandidat independen dewan kota Moskow. Konkov mengatakan, belajar di luar negeri memang sangat menggiurkan. Namun sejak terpilih sebagai wakil dewan kota, Konkov merasa dibutuhkan oleh kotanya.

 

"Tentu saja, belajar di luar negeri untuk menimba ilmu dan kemudian mempraktikkannya di sini adalah ide yang cukup menggiurkan.  Tetapi saat ini saya merasa bahwa saya dibutuhkan di sini. Dan sejak saya terpilih sebagai wakil kota, selama lima tahun ke depan saya berencana untuk tinggal di sini, di distrik saya, membantu orang sebanyak mungkin," ujar Konkov.

 

Konkov mengatakan, sejak Februari tahun lalu, banyak aktivis dan orang yang dikenalnya telah meninggalkan Rusia. Hal ini berdampak pada kampanye politik dan kualitas komunikasi horizontal.  

 

"Coba pikirkan, orang yang paling aktif, orang yang benar-benar peduli dengan apa yang terjadi di negara ini, telah direnggut dari negara tersebut. Sangat sedikit yang tinggal. Dalam situasi ini, melakukan kampanye apa pun, publik atau politik, menjadi sangat sulit. Tapi kami melanjutkan," ujar Konkov.

 

Pemuda lainnya, Ivan Sokolov (25 tahun) mengambil studi ekonomi di Moskow dan sekarang bekerja sebagai analis data. Dia meninggalkan Rusia sebentar ke Kazakhstan, dan kembali ke Moskow.

 

Sokolov mengaku sangat terkejut ketika Presiden Putin memutuskan mobilisasi pasukan cadangan untuk bertempur ke Ukraina. Pengumuman mobilisasi itu membuat Sokolov panik dan akhirnya melarikan diri ke Kazakhstan bersama teman-temannya.

 

"Saya sangat terkejut setidaknya selama satu hari, benar-benar mati rasa.  Saya tidak mengerti apa itu dan mengapa, dan bagaimana menghadapinya," ujar Sokolov.

 

Sokolov dan teman-temannya menempuh rute panjang untuk melarikan diri dari Kazakhstan. Sokolov mengatakan, awalnya dia dan teman-temannya terbang ke Astrakhan di Rusia selatan, lalu menumpang ke Atyrau di Kazakhstan.

 

"Kami butuh dua hari untuk melintasi perbatasan. Rencana saya untuk mencari pekerjaan di luar negeri gagal. Jadi saya harus hidup dengan uang tabungan saya," ujar Sokolov.

 

Sokolov menilai perkembangan negatif dalam geopolitik, tidak berdampak pada kehidupannya. Sokolov mengatakan, dia tidak dapat mengubah arah negaranya. Jadi, dia terpaksa menerima dan membiasakan diri dengan situasi sekarang.

 

"Teman-teman saya di sini, keluarga saya di sini. Saya lahir dan besar di negara ini. Saya tidak dapat mengubah dan memperbaiki segala sesuatu di negara ini, jadi saya terpaksa menerimanya, membiasakan diri, dan bergerak maju," ujar Sokolov.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement