Sabtu 29 Jul 2023 07:05 WIB

Pemimpin Afrika Minta Putin Akhiri Konflik dengan Ukraina

Permintaan tersebut disampaikan dalam pertemuan KTT Rusia-Afrika.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Pertemuan KTT Rusia-Afrika. Para pemimpin Afrika mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melanjutkan rencana perdamaian mengakhiri konflik Ukraina.
Foto: AP
Pertemuan KTT Rusia-Afrika. Para pemimpin Afrika mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melanjutkan rencana perdamaian mengakhiri konflik Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Para pemimpin Afrika mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melanjutkan rencana perdamaian mengakhiri konflik Ukraina, Jumat (28/7/2023). Mereka pun mendesak agar Rusia memperbarui kesepakatan ekspor biji-bijian Ukraina yang aman di masa perang.

"Perang ini harus diakhiri. Dan itu hanya bisa diakhiri atas dasar keadilan dan akal sehat," kata Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki Mahamat kepada Putin dan para pemimpin Afrika di St Petersburg.

Baca Juga

Meskipun tidak secara langsung mengkritik Rusia, intervensi para pemimpin Afrika pada hari kedua KTT Rusia-Afrika lebih terpadu dan kuat daripada yang telah disuarakan mereka hingga saat ini. Pernyataan itu berfungsi sebagai pengingat akan kedalaman keprihatinan Afrika atas konsekuensi perang, terutama kenaikan harga pangan.

"Gangguan pasokan energi dan biji-bijian harus segera diakhiri. Kesepakatan biji-bijian harus diperluas untuk kepentingan semua orang di dunia, khususnya orang Afrika," ujar Mahamat.

Laporan Reuters pada Juni menunjukan, bahwa rencana Afrika melayangkan serangkaian langkah yang mungkin untuk meredakan konflik. Upaya itu termasuk penarikan pasukan Rusia, penghapusan senjata nuklir taktis Rusia dari Belarusia, penangguhan surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional terhadap Putin, dan keringanan sanksi.

Putin memberikan sambutan yang dingin ketika para pemimpin Afrika mempresentasikannya bulan lalu. Namun, dalam pertemuan kali ini pemimpin Istana Kremlin itu mengatakan, Moskow menghormati proposal tersebut dan mempelajarinya dengan hati-hati. Masalah Ukraina akan dibahas nanti pada jamuan makan malam.

Presiden Republik Kongo Denis Sassou Nguesso mengatakan, prakarsa Afrika pantas mendapat perhatian terdekat. Dia menyerukan perdamaian dilakukan segera. 

Presiden Senegal Macky Sall menyerukan penurunan eskalasi untuk membantu menciptakan ketenangan. Sementara Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa berharap, keterlibatan dan negosiasi yang konstruktif dapat membantu mengakhiri konflik.

Desakan dari dalam mendorong Putin berulang kali untuk mempertahankan posisi Rusia dan menyalahkan Ukraina dan Barat. Dia mengatakan, Kiev yang menolak untuk bernegosiasi berdasarkan dekrit yang disahkan tak lama setelah September lalu mencaplok empat wilayah negara tetangga itu yang sebagian dikendalikan Moskow.

Rusia telah lama mengatakan terbuka untuk pembicaraan tetapi menegaskan pembicaraan harus memperhitungkan realitas baru di lapangan. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah menolak gagasan gencatan senjata yang dinilai akan membuat Rusia menguasai hampir seperlima negaranya.

Ketua Uni Afrika Azali Assoumani menawarkan beberapa dukungan untuk pernyataan Putin. Dia mengatakan, pemimpin Rusia itu telah menunjukkan kesiapannya untuk berbicara.

"Sekarang kita harus meyakinkan pihak lain," ujar Assoumani merujuk pada pihak Ukraina.

Selain masalah perdamaian, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mendesak Rusia untuk menghidupkan kembali kesepakatan biji-bijian Laut Hitam dalam pertemuan tinggi di Rusia. Moskow sebelumnya menolak untuk memperbarui kesepakatan yang memungkinkan Ukraina mengekspor biji-bijian dari pelabuhannya meskipun ada konflik.

Mesir adalah pembeli besar biji-bijian melalui rute Laut Hitam. Sisi mengatakan pada KTT, penting untuk mencapai kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu.

Putin menjawab dengan berargumen bahwa kenaikan harga pangan dunia adalah konsekuensi dari kesalahan kebijakan Barat yang jauh sebelum perang Ukraina. Dia telah berulang kali mengatakan, Rusia keluar dari perjanjian karena kesepakatan itu tidak memberikan biji-bijian ke negara-negara termiskin dan Barat tidak menepati kesepakatannya.

Putin pun berjanji untuk mengirimkan hingga 300 ribu ton biji-bijian Rusia secara gratis ke enam negara yang menghadiri KTT tersebut. Assoumani mengatakan tawaran Putin mungkin tidak cukup dan yang dibutuhkan adalah gencatan senjata.

Penarikan Rusia dan pemboman pelabuhan Ukraina serta depot biji-bijian telah memicu tuduhan dari Ukraina dan Barat kepada Rusia bahwa menggunakan makanan sebagai senjata perang. Tindakan itu mendorong harga gandum global naik sekitar sembilan persen. Asosiasi Gandum Ukraina memperkirakan pada Mei, bahwa empat juta metrik ton biji-bijian Ukraina telah dicuri sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari tahun lalu. 

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement