Selasa 08 Aug 2023 14:40 WIB

Cina Tegaskan ke Rusia tidak Memihak ke Ukraina

Lebih dari 40 negara, kecuali Rusia, ikutserta dalam pembicaraan damai di Jeddah.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Pekerja kota membersihkan puing-puing di atap Universitas No. 47 yang rusak akibat serangan roket Rusia di Kramatorsk, Ukraina, Senin, 9 Januari 2023.
Foto: AP Photo/Evgeniy Maloletka
Pekerja kota membersihkan puing-puing di atap Universitas No. 47 yang rusak akibat serangan roket Rusia di Kramatorsk, Ukraina, Senin, 9 Januari 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan kepada mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov, dalam sebuah percakapan telepon pada hari Senin (7/8/2023), bahwa Cina akan menegakkan posisi yang independen dan tidak memihak di Ukraina. Karena Cina berusaha untuk menemukan penyelesaian politik atas masalah ini.

Komentar Wang kepada Lavrov diumumkan dalam sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri pada hari Senin, yang mengatakan bahwa Cina akan menjadi 'suara yang obyektif dan rasional' di setiap forum multilateral internasional dan 'secara aktif mendorong perundingan perdamaian'.

Baca Juga

Pernyataan ini muncul setelah kementerian tersebut mengatakan sebelumnya pada hari Senin bahwa pembicaraan internasional di Arab Saudi pada akhir pekan, untuk menemukan resolusi damai untuk krisis Ukraina. Dan Cina memastikan telah membantu 'mengkonsolidasikan konsensus internasional' tersebut.

Lebih dari 40 negara, termasuk Cina, India, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, namun tidak termasuk Rusia, ikut serta dalam pembicaraan Jeddah yang berakhir pada hari Ahad (6/8/2023). 

Cina mengirimkan utusan khususnya untuk urusan Eurasia dan mantan duta besar untuk Rusia, Li Hui. Mantan Dubes Cina untuk Rusia ini pada bulan Mei lalu, telah melakukan tur ke enam ibukota Eropa untuk mencoba mencari titik temu bagi penyelesaian politik dari konflik, yang kini telah memasuki bulan ke-18 tersebut.

Beijing telah menolak untuk mengutuk Moskow atas invasi ke Ukraina yang diluncurkannya pada Februari 2022. Beijing telah menawarkan rencana perdamaiannya sendiri, yang mendapat tanggapan hangat baik di Rusia maupun Ukraina, sementara Amerika Serikat dan NATO bersikap skeptis atas tawaran perdamaian Cina sebelumnya. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement