Rabu 06 Sep 2023 12:43 WIB

Rusia Peringatkan AS, Kembalikan Senjata Nuklir ke Inggris Bisa Tingkatkan Eskalasi

Senjata nuklir AS kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Senjata nuklir AS kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun.
Foto: AP/Russian Defense Ministry Press S
Senjata nuklir AS kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia akan menganggap pengembalian senjata nuklir AS ke pangkalan-pangkalan militer di Inggris sebagai upaya peningkatan "eskalasi dan praktik yang mengganggu stabilitas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah konferensi pers pada Selasa (6/9/2023).

Dia juga mengatakan bahwa praktik semacam itu "secara terbuka bersifat anti-Rusia. Karena praktik ini menyediakan perencanaan bersama dan latihan rutin untuk pengiriman serangan nuklir secara cepat oleh anggota NATO, yang memusuhi kami terhadap target di Rusia dari wilayah negara-negara Eropa non-nuklir."

Baca Juga

"Kami akan terus menuntut pengembalian semua senjata nuklir Amerika ke wilayah AS, diikuti dengan pemindahan infrastruktur yang memungkinkan senjata-senjata itu dikerahkan dengan cepat di Eropa," tambahnya.

Zakharova menanggapi sebuah laporan pekan lalu tentang sebuah item dalam anggaran angkatan udara AS tahun 2024 untuk membangun asrama di RAF Lakenheath di Suffolk, Inggris untuk personel dalam "misi penjaminan potensial" sebagai jargon militer untuk keselamatan dan keamanan nuklir. Hal ini meningkatkan prospek kembalinya senjata nuklir AS ke tanah Inggris untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun.

AS diperkirakan oleh Federasi Ilmuwan Amerika (FAS) memiliki 100 bom gravitasi B61 yang dikerahkan di Eropa dan 100 B61 lainnya - satu-satunya senjata taktis di gudang persenjataannya - yang disimpan di AS. Jika senjata nuklir AS dikirim kembali ke Lakenheath, hampir pasti senjata tersebut adalah versi modern dari B61.

FAS memperkirakan Rusia memiliki 1.816 senjata taktis atau non-strategis (senjata dengan jarak yang lebih pendek dan ditujukan untuk digunakan dalam pertempuran, bukan untuk menghancurkan seluruh kota).

Senjata-senjata ini disimpan di fasilitas penyimpanan, tetapi Vladimir Putin mengumumkan pada Juni lalu bahwa beberapa hulu ledak nuklir akan dikerahkan di Belarusia dalam waktu satu bulan. Sejauh ini, belum ada konfirmasi dari intelijen Barat bahwa hulu ledak nuklir itu telah dipindahkan.

Hulu ledak tersebut dimaksudkan untuk digunakan pada peluncur rudal Belarus Iskander atau sebagai bom yang akan dijatuhkan oleh jet Su-24 atau Su-25 Belarus. Jika pemindahan itu dilakukan, maka ini akan menjadi pertama kalinya Moskow menyerahkan senjata nuklir ke tangan sekutu sejak runtuhnya Uni Soviet.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement