Senin 11 Sep 2023 13:12 WIB

Hujan Sisa Badai Guyur Cina Tujuh Hari Berturut-turut

Hujan menyebabkan banjir, memblokir jalan dan menjebak warga di rumah.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Banjir di Cina (ilustrasi). Hujan lebat sisa badai yang melanda selatan Cina masih membasahi wilayah itu selama tujuh hari berturut-turut.
Foto: AP
Banjir di Cina (ilustrasi). Hujan lebat sisa badai yang melanda selatan Cina masih membasahi wilayah itu selama tujuh hari berturut-turut.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Hujan lebat sisa badai yang melanda selatan Cina masih membasahi wilayah itu selama tujuh hari berturut-turut. Sementara awan badai mulai bergerak dari Guangdong ke wilayah pinggir pantai Guangxi.

Hujan menyebabkan banjir di daerah rendah, memblokir jalan dan menjebak warga di kediaman mereka. Pada Senin (11/9/2023) media pemerintah melaporkan sejak Ahad (10/9/2023) malam tim penyelamat menggunakan perahu karet untuk membawa warga Kabupaten Bobai, daerah Guangxi, ke tempat aman.

Baca Juga

Sementara air setinggi lebih dari 2 meter menggenangi daerah permukiman yang terletak di dataran rendah. Hujan lebat diperkirakan akan bertahan selama beberapa hari ke depan.

Badai Haikui mulai melemah sejak badai tropis itu mendarat di Provinsi Fujian pada 5 September lalu. Lalu sisa sirkulasinya masih memporak-porandakan wilayah selatan Cina, kota berpenduduk padat, Shenzhen, diguyur hujan paling lebat sejak curah hujan mulai dicatat pada 1952.

Sementara Hong Kong, dilanda badai terburuk dalam 140 tahun terakhir. Ilmuwan memperingatkan topan yang melanda Cina menjadi lebih intens dan jalurnya lebih rumit.

Sehingga meningkatkan risiko bencana, bahkan di kota-kota pesisir seperti Shenzhen yang sering menghadapi topan tropis dan sudah memiliki kemampuan pertahanan banjir yang kuat.

“Topan bergerak masuk ke wilayah yang secara historis tidak sering dilanda curah hujan lebat dan angin kencang, seringkali memiliki ketahanan bencana yang lebih rendah, sehingga menimbulkan dampak yang lebih parah,” kata pakar iklim di Universitas California, Irvine, Shao Sun.

"Dalam kasus Shenzhen, bencana ini sebagian besar disebabkan lambatnya pergerakan sisa sirkulasi Haikui ke arah barat, yang posisi spasialnya hampir stagnan dari 7 September sore hingga 8 September dini hari, dan" efek kereta api"  hujan deras yang menyebabkan kejadian melebihi intensitas yang diperkirakan," tambahnya.

Apa yang Shou Sun maksud dari "efek kereta api" merujuk pada dampak kumulatif beberapa sistem awan konvektif yang melintasi suatu wilayah secara berurutan, menghasilkan akumulasi curah hujan yang signifikan dan meningkatkan potensi curah hujan lebat, bahkan ekstrem.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement