Rabu 13 Sep 2023 13:59 WIB

PBB: 333 Juta Anak di Dunia Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem

40 persen anak-anak di Afrika sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan ekstrem

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Laporan UNICEF dan Bank Dunia menemukan bahwa 40 persen anak-anak di Afrika sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, persentase tertinggi di dunia.
Foto: AP Photo/Farah Abdi Warsameh
Laporan UNICEF dan Bank Dunia menemukan bahwa 40 persen anak-anak di Afrika sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, persentase tertinggi di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA – Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengungkapkan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perlambatan tajam dalam mengentas kemiskinan anak. Mereka menyebut, saat ini masih terdapat 333 juta anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Laporan UNICEF dan Bank Dunia yang diterbitkan Rabu (13/9/2023) mengungkapkan, pandemi menyebabkan penghapusan kemiskinan ekstrem pada 30 juta anak lebih sedikit dibandingkan perkiraan sebelumnya. Akibatnya, sekitar satu dari enam anak masih hidup dengan pendapatan kurang dari 2,15 dolar AS atau Rp33 ribu per hari.

Baca Juga

“Krisis yang semakin parah, akibat dampak Covid-19, konflik, perubahan iklim, dan guncangan ekonomi, telah menghambat kemajuan, dan menyebabkan jutaan anak berada dalam kemiskinan ekstrem,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dalam sebuah pernyataan, dilaporkan Channel News Asia.

Temuan-temuan dalam laporan UNICEF dan Bank Dunia mengekspose hambatan untuk mencapai tujuan ambisius PBB untuk memberantas kemiskinan ekstrem pada anak pada 2030. “Dunia di mana 333 juta anak hidup dalam kemiskinan ekstrem, tidak hanya kehilangan kebutuhan dasar tetapi juga martabat, kesempatan atau harapan, tidak dapat ditoleransi,” ujar Direktur Global Kemiskinan dan Kesetaraan Bank Dunia Luis-Felipe Lopez-Calva dalam sebuah pernyataan.

Laporan UNICEF dan Bank Dunia menemukan bahwa 40 persen anak-anak di Afrika sub-Sahara masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, persentase tertinggi di dunia. Serangkaian faktor termasuk pesatnya pertumbuhan populasi, Covid-19, dan bencana terkait iklim telah memperburuk kemiskinan anak yang ekstrem di Afrika Sub-Sahara dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terjadi ketika seluruh wilayah lain di dunia terus mengalami penurunan.

Bank Dunia dan UNICEF meminta negara-negara untuk memprioritaskan penanggulangan kemiskinan anak dan memberlakukan serangkaian tindakan termasuk perluasan program tunjangan anak universal. “Kita tidak bisa mengecewakan anak-anak ini sekarang. Mengakhiri kemiskinan anak adalah sebuah pilihan kebijakan,” kata Catherine Russell.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement