Jumat 22 Sep 2023 06:49 WIB

Zelenskyy Berani Kecam Rusia Lewat Pidato, Hindari Tatap Muka dengan Menlu Lavrov

Perang Ukraina telah menyebabkan ketegangan dan perpecahan geopolitik.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
Foto: AP Photo/Francisco Seco
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Presiden Ukraina Volodomyr Zelenskyy mendapatkan kesempatan berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB. Melalui pidatonya di depan 15 anggota DK, ia mengecam invasi militer Rusia ke Ukraina dan menyatakan veto Rusia membuat DK tak efektif. 

Sebelum pertemuan dimulai, muncul spekulasi besar apakah Zelenskyy dan Menlu Rusia Sergei Lavrov akan berdebat, melakukan pembicaraan, atau menghindar satu sama lain. Namun, tak terjadi konfrontasi karena Zelenskyy meninggalkan pertemuan tak lama setelah ia pidato. 

Baca Juga

Ketegangan justru muncul sebelum pertemuan pada Rabu (20/9/2023) itu di mulai. Sebelum Lavrov tiba, Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia memprotes keputusan presiden DK PBB yang mengizinkan Zelenskyy berbicara di depan 15 anggota DK PBB.

Ia menyebut presiden DK PBB bulan ini, yaitu Perdana Menteri Albania Edi Rama, mencoba mengubah pertemuan tersebut menjadi pertunjukan tunggal  ‘stand-up’ merujuk pada masa lalu Zelenskyy yang merupakan seorang komedian. 

Namun Rama berdalih. Ia menyatakan, aturan DK PBB mengizinkan negara bukan anggota DK PBB untuk berbicara. ‘’Ini bukan operasi khusus dalam presidensi Albania,’’katanya menyindir Rusia yang menyebut invasi ke Ukraina sebagai operasi militer khusus. 

Setelah terjadi perdebatan panas apakah Nebenzia memandang Rama sebagai PM Albania dan anggota NATO, bukannya presiden DK PBB bulan ini, Rama kemudian menyatakan,’’Saya mencatat semuanya dan kita akan melanjutkan sesi pertemuan ini.’’

Lalu, Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan uraian dalam pertemuan itu, menekankan invasi Rusia terhadap Ukraina pada Februari 2022 jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap piagam PBB dan hukum internasional. 

‘’Perang ini telah menyebabkan ketegangan dan perpecahan geopolitik, mengancam stabilitas kawasan, meningkatkan ancaman nuklir, serta menciptakan lebih dalam kutub-kutub yang berbeda,’’ demikian pernyataan Guterres. 

Invasi Rusia sebagai kejahatan...

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement