Kamis 28 Sep 2023 11:26 WIB

Korban Pelecehan Seksual oleh Gereja Katolik Minta Keadilan

Pelecehan seksual dan skandal yang ditutup-tutupi telah rusak reputasi Gereja Katolik

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Sekelompok korban pelecehan seksual oleh para pemimpin Gereja Katolik di berbagai dunia, dan para aktivis serta pendukung mereka pada hari Rabu (27/9/2023) turun ke jalan di kota Roma, Italia.
Foto: AP
Sekelompok korban pelecehan seksual oleh para pemimpin Gereja Katolik di berbagai dunia, dan para aktivis serta pendukung mereka pada hari Rabu (27/9/2023) turun ke jalan di kota Roma, Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Sekelompok korban pelecehan seksual di Gereja Katolik dan pendukungnya pada Rabu (27/9/2023) meminta Paus Fransiskus untuk menegakkan nol toleransi terhadap pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor. Sepuluh pria dan wanita berjalan sejauh 130 kilometer di sepanjang jalur terakhir Via Francigena, jalur abad pertengahan yang menghubungkan Canterbury, Inggris, ke Roma dengan membawa salib besar.

Aksi ini berlangsung menjelang pertemuan puncak besar Vatikan mengenai masa depan Gereja Katolik yang dimulai minggu depan. Seorang pengacara dan salah satu pendiri Ending Clergy Abuse (ECA), Timothy Law mengatakan, aksi ini menunjukkan tekad para penyintas untuk datang menyampaikan pesan mereka kepada Paus Fransiskus bahwa harus ada hukum universal gereja yang tidak memberikan toleransi.

“Apa pun yang kurang dari itu tidak cukup,” ujar Law.

Pelecehan seksual dan skandal yang ditutup-tutupi telah merusak reputasi Gereja Katolik dan menjadi tantangan besar bagi Paus. Paus telah mengeluarkan serangkaian langkah yang bertujuan untuk membuat hierarki Gereja lebih akuntabel, dengan hasil yang beragam.

Law mengatakan, ECA ingin Paus Fransiskus memberikan mandat untuk segera memecat para pastor yang dicurigai melakukan pelecehan, memecat para uskup yang bersalah karena menutup-nutupi, dan wajib melaporkan kasus-kasus pelecehan kepada otoritas sipil, bukan otoritas agama.  Paus Fransiskus telah menjanjikan tidak ada toleransi sehubungan dengan pelecehan di gereja. Namun para kritikus menyatakan, reformasi dan pedomannya belum berjalan cukup baik dan diadopsi secara tidak merata oleh Gereja-Gereja Katolik nasional.

Aktivis ECA datang ke Roma menjelang sinode, atau pertemuan para uskup sedunia di Vatikan pada 4-29 Oktober.  Pertemuan itu untuk membahas mengenai pemberian peran lebih besar pada perempuan di Gereja, dan pendekatan terhadap kelompok LGBT.

“Saya tidak tahu bagaimana Anda bisa melangkah ke masa depan jika Anda belum menyelesaikan masalah kriminal para pendeta (predator) dan upaya menutup-nutupi oleh hierarki di Gereja Katolik,” Peter Isely, anggota ECA lainnya yang berbasis di Amerika Serikat tentang sinode.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement