Senin 02 Oct 2023 20:26 WIB

Korut Kecam IAEA karena Desak Hentikan Program Senjata Nuklir

Korut telah menarik diri dari IAEA pada 1994.

 Sebuah foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) resmi menunjukkan rudal jelajah diluncurkan selama latihan yang dilakukan di Jakdo-dong, Korut,  22 Maret 2023
Foto: EPA-EFE/KCNA
Sebuah foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) resmi menunjukkan rudal jelajah diluncurkan selama latihan yang dilakukan di Jakdo-dong, Korut, 22 Maret 2023

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Utara pada Senin (2/20/2023) mengecam Badan Energi Atom Internasional (IAEA) karena mengkritik pengembangan nuklir Pyongyang, menyebutnya sebagai "konspirasi antara Amerika Serikat dan pengikutnya."

Pada Konferensi Umum IAEA ke-67 di Wina, Austria, pekan lalu, negara-negara anggota IAEA mengadopsi resolusi yang mendesak rezim yang bandel tersebut untuk menghentikan program senjata nuklirnya dan mematuhi kewajibannya berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga

“Kami mengecam keras dan menolak perilaku abnormal IAEA yang sepenuhnya menjadi sebuah organisasi reptil yang melayani AS dan menyimpang dari misi dasarnya sebagai organisasi internasional untuk menjaga ketidakberpihakan," kata juru bicara kementerian tenaga nuklir Korut yang tidak menyebutkan namanya dalam pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Sentral Korea Utara (KCNA).

Korut juga menegaskan bahwa negaranya telah menarik diri dari badan nuklir itu pada 1994, dia mengatakan IAEA "tidak memiliki kualifikasi atau dasar kebenaran untuk mengatakan ini atau itu" terhadap pelaksanaan kedaulatan Korea Utara.

“Selama senjata nuklir tirani AS dan kekuatan agresi imperialis masih ada di wilayah ini, posisi DPRK sebagai negara bersenjata nuklir tidak akan berubah dan DPRK tidak akan pernah menoleransi tindakan kekuatan musuh yang melanggar kedaulatannya,” tambah dia, mengacu pada nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea.

Juru bicara itu kemudian menunjuk Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi, mengecamnya karena membuat "suasana yang menekan DPRK" dan "menyebarkan cerita palsu" tentang uji coba nuklir ketujuh yang akan segera dilakukan untuk "menyanjung AS dan Barat".

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement