Senin 09 Oct 2023 06:47 WIB

Militer Israel Serang Kamp Pengungsi di Gaza, 19 Orang Gugur

Gelombang serangan udara Israel menelan korban jiwa lebih dari 400 warga Palestina.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Asap membubung menyusul serangan udara Israel, di Kota Gaza, Ahad, 8 Oktober 2023.
Foto: AP Photo/Hatem Moussa
Asap membubung menyusul serangan udara Israel, di Kota Gaza, Ahad, 8 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, RAFAH -- Peringatan evakuasi datang tak lama setelah hari mulai gelap pada Ahad (8/10/2023) malam. Militer Israel melepaskan tembakan tak jauh dari rumah Nasser Abu Quta di Jalur Gaza selatan, sebuah tindakan pencegahan yang dimaksudkan untuk memungkinkan orang-orang mengungsi sebelum serangan udara.

Abu Quta, 57 tahun, mengira ia dan keluarga besarnya akan aman beberapa ratus meter dari rumahnya yang telah diberi tahu akan adanya serangan Israel. Dia berkumpul dengan kerabatnya di lantai dasar bangunan empat lantai miliknya, bersiap-siap untuk menghadapi serangan di daerah tersebut.

Baca Juga

 

Namun rumah tetangga Abu Quta tidak terkena dampaknya. Dalam sekejap, sebuah ledakan merobek rumahnya sendiri, 19 anggota keluarganya, termasuk istri dan sepupunya gugur, katanya. Serangan udara itu juga menewaskan lima tetangganya yang sedang berdiri di luar di kamp pengungsi yang penuh sesak, di tengah-tengah bangunan dan lorong-lorong.

Serangan udara di Rafah, sebuah kota di bagian selatan yang berbatasan dengan Mesir, terjadi ketika pasukan Israel mengintensifkan pengeboman terhadap target-target di Jalur Gaza menyusul serangan besar-besaran dari berbagai lini oleh pejuang Hamas pada hari Sabtu yang menewaskan lebih dari 700 orang di Israel hingga Ahad malam. 

Hamas juga menyandera puluhan warga Israel dan menembakkan ribuan roket ke arah pusat-pusat populasi Israel, meskipun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Iron Dome Israel.

Sejauh ini, gelombang serangan udara telah menelan korban jiwa lebih dari 400 warga Palestina, termasuk puluhan perempuan dan anak-anak, demikian laporan pejabat kesehatan pada hari Ahad. Tampaknya ada beberapa serangan udara mematikan serupa di gedung-gedung pemukiman yang padat. 

Militer Israel mengatakan pada Sabtu malam bahwa mereka telah menyerang berbagai kantor dan pusat komando Hamas di gedung-gedung bertingkat.

Namun Abu Quta tidak mengerti mengapa Israel menyerang rumahnya. Tidak ada pejuang Hamas di dalam gedungnya, ia bersikeras, dan keluarganya tidak diperingatkan. Mereka tidak akan tinggal di rumah mereka jika memang ada, tambah kerabatnya, Khalid.

"Ini adalah rumah yang aman, dengan anak-anak dan perempuan," kata Abu Quta, yang masih terguncang, sambil mengingat tragedi itu dalam potongan-potongan detail. "Debu membanjiri rumah. Ada jeritan-jeritan," katanya. "Tidak ada dinding. Semuanya terbuka."

Militer Israel tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar tentang serangan terhadap rumah Abu Quta. Militer Israel mengatakan bahwa mereka melakukan serangan presisi yang ditujukan kepada para komandan militan atau lokasi operasi dan bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil. 

Mereka juga menunjuk pada praktik musuh-musuhnya dalam menanamkan pejuang di daerah-daerah sipil di seluruh wilayah pesisir yang miskin dan berpenduduk 2,3 juta jiwa, yang berada di bawah blokade darat, udara, dan laut yang parah oleh Israel dan Mesir.

Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia sebelumnya mengatakan bahwa pola serangan mematikan Israel terhadap rumah-rumah penduduk menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap kehidupan warga sipil Palestina dan menyatakan bahwa hal itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

Dalam perang dan putaran pertempuran antara Israel dan militan Hamas di masa lalu, serangan udara Israel secara individu telah menewaskan banyak warga sipil - misalnya, 22 anggota keluarga yang sama dalam satu serangan pada perang berdarah tahun 2021.

Abu Quta dicengkeram kesedihan pada hari Ahad ketika ia bersiap untuk penguburan bersama dua lusin kerabatnya yang masih hidup, termasuk anak-anak dan cucu-cucunya yang terluka. Banyak mayat yang ditarik keluar dari bawah reruntuhan dalam keadaan hangus dan hancur, katanya.

Meskipun ia berhasil mengidentifikasi jenazah 14 anggota keluarganya, setidaknya empat jenazah anak-anak masih berada di kamar mayat, tidak dapat dikenali. Satu mayat hilang.

"Mungkin kami akan menempatkan mereka besok dalam satu kuburan," katanya. "Semoga mereka beristirahat dengan tenang." 

 

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement