Kamis 12 Oct 2023 17:10 WIB

Hamas: Normalisasi Negara Arab dengan Israel tidak akan Menciptakan Perdamaian

Hamas melancarkan serangan tak terduga ke wilayah Israel.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Unit artileri Israel menembaki daerah sepanjang perbatasan dengan Gaza, Israel selatan, Rabu (11/10/2023).
Foto: EPA-EFE/MARTIN DIVISEK
Unit artileri Israel menembaki daerah sepanjang perbatasan dengan Gaza, Israel selatan, Rabu (11/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Serangan mengejutkan kelompok perlawanan Palestina, Hamas ke Israel tidak hanya sekadar serangan fisik. Mereka juga membidik upaya untuk membentuk keberpihakan keamanan regional baru yang dapat mengancam aspirasi Palestina untuk menjadi negara.

Serangan mengejutkan Hamas pada Sabtu (7/10/2023) merupakan serangan terbesar ke Israel dalam beberapa dekade. Serangan ini bertepatan dengan langkah yang didukung AS untuk mendorong Arab Saudi menuju normalisasi hubungan dengan Israel, sebagai imbalan atas kesepakatan pertahanan antara Washington dan Riyadh. Serangan Hamas akan mengerem upaya pemulihan hubungan antara Saudi dengan Israel.

Baca Juga

“Semua perjanjian normalisasi yang Anda (negara-negara Arab) tandatangani dengan (Israel) tidak akan mengakhiri konflik ini,” kata pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh.

Serangan Hamas yang dilancarkan dari Gaza terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya kekerasan di wilayah pendudukan Tepi Barat. Termasuk meningkatnya serangan Israel, dan serangan oleh pemukim Yahudi di desa-desa Palestina. 

Kondisi warga Palestina semakin memburuk di bawah pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sementara upaya perdamaian telah terhenti selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Arab Saudi dan Israel sama-sama mengindikasikan bahwa mereka semakin mendekati kesepakatan normalisasi. Seorang analis Timur Tengah di Johns Hopkins School for Advanced International Studies di Washington, Laura Blumenfeld mengatakan, Hamas mungkin menyerang karena merasa bahwa mereka menghadapi hal-hal yang tidak relevan seiring dengan kemajuan upaya menuju hubungan Israel-Arab yang lebih luas.

“Ketika Hamas menyaksikan Israel dan Saudi hampir mencapai kesepakatan, mereka memutuskan: tidak ada kursi di meja perundingan?” kata Blumenthal.

Pemimpin Hamas di Lebanon, Osama Hamdan, mengatakan, operasi pada Sabtu harus membuat negara-negara Arab menyadari bahwa menerima tuntutan keamanan Israel tidak akan membawa perdamaian. Dia menyayangkan beberapa negara Arab mulai membayangkan bahwa Israel bisa menjadi pintu gerbang bagi Amerika untuk mempertahankan keamanan mereka.

“Bagi mereka yang menginginkan stabilitas dan perdamaian di kawasan, titik awalnya haruslah mengakhiri pendudukan Israel,” kata Hamdan.

Pejabat Hamas, Ali Baraka mengatakan, serangan melalui udara, darat, dan laut merupakan kejutan bagi musuh. Serangan ini membuktikan bahwa intelijen militer Israel gagal mencegah operasi mengejutkan itu.

"Kepemimpinan perlawanan perlu mengambil keputusan pada waktu yang tepat, ketika perhatian musuh terlena dengan pestanya," kata Baraka.

Pada 1973, Mesir menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel. Beberapa negara Arab lainnya juga telah menormalisasi hubungan, termasuk beberapa negara Teluk Arab yang bersebelahan dengan Arab Saudi.  Namun Palestina belum mencapai cita-cita mereka untuk mendirikan sebuah negara, yang prospeknya masih terlihat jauh dari sebelumnya.

“Meskipun bukan merupakan pendorong utama serangan tersebut, tindakan Hamas mengirimkan pengingat yang jelas kepada Saudi bahwa masalah Palestina tidak boleh dianggap hanya sebagai subtopik dalam negosiasi normalisasi,” ujar mantan diplomat AS di Timur Tengah, Richard LeBaron.

Seorang pejabat senior di pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan, sangat dini untuk berspekulasi mengenai dampak konflik Israel-Hamas terhadap upaya normalisasi Saudi-Israel. “Saya yakin Hamas tidak akan menggagalkan hasil seperti itu. Namun proses tersebut masih harus berjalan,” ujar pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim.

Sumber regional yang akrab dengan hubungan Saudi-Israel-AS mengatakan,  Israel melakukan kesalahan dengan menolak memberikan konsesi kepada Palestina. Sementara itu, Iran tidak merahasiakan dukungannya terhadap Hamas.

Iran mendanai dan mempersenjatai Hamas, serta kelompok pejuang Palestina lainnya yaitu Jihad Islam. Teheran menyebut serangan pada Sabtu sebagai tindakan membela diri bagi warga Palestina.

Yahya Rahim Safavi, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, Teheran akan mendukung para pejuang Palestina sampai pembebasan Palestina dan Yerusalem. Seorang pejabat Palestina, yang dekat dengan kelompok pejuang mengakui dukungan Iran terhadap Hamas.

"Iran punya andil, bukan hanya satu tangan, dalam setiap roket yang ditembakkan ke Israel. Ini bukan berarti bahwa mereka memerintahkan serangan (Sabtu) tetapi bukan rahasia lagi bahwa ini berkat Iran, (bahwa) Hamas dan Jihad Islam mampu meningkatkan persenjataan mereka,” kata pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim. 

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement