Jumat 27 Oct 2023 14:02 WIB

Dua Jet Tempur AS Serang Suriah

Serangan itu sebagai aksi balasan atas serangan dari kelompok milisi dukungan Iran.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Dua jet tempur F-16 milik Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas senjata dan amunisi di Suriah, Jumat (27/10/2023).
Foto: EPA-EFE/SOUTH KOREAS JOINT CHIEFS OF STAFF
Dua jet tempur F-16 milik Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas senjata dan amunisi di Suriah, Jumat (27/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Dua jet tempur Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas senjata dan amunisi di Suriah, Jumat (27/10/2023). Washington mengatakan, serangan itu merupakan aksi balasan atas serangan yang dilancarkan kelompok milisi yang didukung Iran. 

Dua jet F-16 milik AS meluncurkan serangan udaranya sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Fasilitas senjata dan amunisi yang dibidik Washington berada di dekat Abu Kamal, sebuah kota Suriah di perbatasan dengan Irak. Menurut Pentagon, perintah serangan terhadap dua fasilitas yang digunakan polisi Garda Revolusi Iran dan milisi yang didukungnya itu datang langsung dari Presiden AS Joe Biden. 

Baca Juga

“Serangan pertahanan diri yang tepat ini adalah respons terhadap serangkaian serangan yang sedang berlangsung dan sebagian besar tidak berhasil terhadap personel AS di Irak serta Suriah oleh kelompok milisi yang didukung Iran yang dimulai pada 17 Oktober,” kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dalam sebuah pernyataan. 

Austin tak mengungkap siapa pengelola fasilitas senjata dan amunisi yang dibidik dalam serangan AS. Dia hanya mengisyaratkan bahwa serangan semacam itu dapat dilakukan lagi jika personel AS di kawasan masih dibidik.

“Serangan yang didukung Iran terhadap pasukan AS tidak dapat diterima dan harus dihentikan,” ujarnya. 

Pasukan AS dan koalisinya yang berada di Irak dan Suriah telah diserang setidaknya 19 kali oleh pasukan milisi yang didukung Iran dalam sepekan terakhir. Kelompok Hizbullah Lebanon, Houthi Yaman, Hamas, dan Jihad Islam adalah pihak-pihak yang selalu disebut AS memperoleh dukungan Iran.

Saat berbicara di PBB pada Kamis (26/10/2023) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian mengatakan, jika Israel terus melancarkan agresinya ke Jalur Gaza, pasukan dan basis AS di kawasan tidak akan terhindar dari serangan. Joe Biden telah mengirim pesan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam pesannya kepada Khamenei, Biden memperingatkan agar Iran tidak menargetkan personel militer AS di Timur Tengah. “Yang kami inginkan adalah Iran mengambil tindakan yang sangat spesifik, mengarahkan milisi dan proksinya untuk mundur,” ujar seorang pejabat senior pertahanan AS.

Sementara itu Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan, negaranya tidak tertarik terlibat perang dengan musuh lain selain Hamas. Meski mengetahui adanya serangan berkala dari kelompok Hizbullah Lebanon, dia menegaskan Israel tak ingin memperluas perang.

“Kami melancarkan perang di front selatan melawan Hamas, bersiap menghadapi segala perkembangan di utara, Hizbullah menderita banyak kerugian. Namun, kami tidak tertarik untuk memperluas perang,” kata Gallant kepada awak media setelah ditanya tentang kemungkinan konfrontasi Israel dengan Iran, Kamis lalu.

Gallant pun ditanya tentang apakah Israel akan melanjutkan rencananya melancarkan operasi pertempuran darat ke Jalur Gaza. “Harinya tidak lama lagi. Manuver akan dimulai ketika kondisinya tepat,” ujar Gallant merespons pertanyaan tersebut.

Gallant enggan mengomentari mengenai kemungkinan pembebasan orang-orang yang disandera Hamas lewat mediasi Qatar. Dia hanya menyampaikan bahwa saluran apa pun bisa saja dipakai selama tujuan pembebasan sandera tercapai. Saat ini Hamas diduga masih menyandera lebih dari 200 orang yang terdiri dari warga Israel, warga Israel berkewarganegaraan ganda, dan warga asing. 

Israel mulai membombardir Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu sebagai respons atas serangan dan operasi infiltrasi Hamas. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, hingga Kamis lalu, korban terbunuh akibat agresi Israel ke Gaza telah melampaui 7.000 jiwa, termasuk di dalamnya sekitar 3.000 anak-anak.

Sementara korban luka melampaui 18 ribu orang. Serangan Israel juga menyebabkan sekitar 1,3 juta dari 2,2 juta penduduk Gaza terlantar dan mengungsi. 

 

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement