Ahad 29 Oct 2023 11:09 WIB

Kontraktor Militer Untung Besar di Perang Israel-Hamas

Perang Israel Palestina akan berdampak baik bagi bisnis.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Perang yang bergejolak di wilayah kantung Palestina, Gaza, dipandang akan membawa banyak keuntungan bagi kontraktor militer.
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Perang yang bergejolak di wilayah kantung Palestina, Gaza, dipandang akan membawa banyak keuntungan bagi kontraktor militer.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perang yang bergejolak di wilayah kantung Palestina, Gaza, dipandang akan membawa banyak keuntungan bagi kontraktor militer. Dua kontraktor pertahanan terbesar Amerika Serikat (AS) mengatakan kepada investor pekan ini, bahwa perang itu akan berdampak baik bagi bisnis.

Sejak Hamas berhasil melakukan serangan tidak terduga ke wilayah perbatasan Israel pada 7 Oktober, Israel telah menggempur Jalur Gaza dengan ribuan bom. Amerika Serikat (AS) selaku sekutu dekat Israel telah memberikan miliaran bantuan setiap tahunnya dan Presiden Joe Biden baru-baru ini meminta dana baru sebesar 14 miliar dolar AS untuk bantuan militer bagi Israel.

Baca Juga

Para pejabat AS menurut laporan Financial Times telah menyampaikan kekhawatiran bahwa Israel tidak memiliki rencana nyata menyelesaikan serangan setelah melakukan invasi darat di Gaza. Meski begitu, nyatanya eskalasi konflik pasti akan menguntungkan kontraktor pertahanan.

Para kontraktor militer ini telah mengalami lonjakan bisnis akibat perang Rusia di Ukraina yang mendorong tingginya permintaan akan pesawat tempur, rudal, tank, artileri, amunisi, dan bom. Kini serangan di Gaza oleh Israel akan menambah keuntungan.

Perusahaan pertahanan RTX sebelumnya dikenal sebagai Raytheon dan General Dynamics mengalami peningkatan stok mereka lebih dari 10 persen sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober. Tren ini merupakan bagian dari lonjakan kinerja saham yang lebih luas di kalangan perusahaan pertahanan.

Para eksekutif di kontraktor pemerintah federal terbesar kedua dan ketiga di AS itu pada pekan ini berbicara secara terbuka tentang dampak perang antara Israel dan Hamas menguntungkan lebih banyak pada bisnis keduanya. “Sejujurnya, situasi di Israel jelas sangat buruk dan terus berkembang saat ini,” kata kepala keuangan dan wakil presiden eksekutif di General Dynamics Jason Aiken.

"Tapi saya pikir jika Anda melihat potensi tambahan permintaan dari hal tersebut, potensi terbesar yang perlu disoroti dan yang paling menonjol mungkin adalah sisi artileri," ujarnya dikutip dari Jacobin.

Aiken menjelaskan, hal itu dinilai merupakan titik tekanan besar bagi Ukraina hingga saat ini, karena mereka telah melakukan segala yang bisa dilakukan untuk mendukung Angkatan Darat. "Kami telah beralih dari 14 ribu per bulan menjadi 20 ribu dengan sangat cepat. Kami bekerja lebih cepat dari jadwal untuk mempercepat kapasitas produksi hingga 85 ribu butir, bahkan hingga 100 ribu butir per bulan, dan saya pikir situasi di Israel hanya akan menambah tekanan pada permintaan tersebut," katanya.

Dalam laporan pendapatan RTX pada 24 Oktober, ketika ditanya tentang kemungkinan peningkatan pendanaan pertahanan AS untuk Israel, CEO perusahaan Greg Hayes mengatakan, konflik tersebut kemungkinan akan meningkatkan pesanan rudal. RTX memasok rudal untuk sistem pertahanan Iron Dome Israel dan memproduksi berbagai teknologi militer lainnya.

“Saya pikir di seluruh portofolio Raytheon, Anda akan melihat manfaat dari penyetokan ulang ini. Selain dari apa yang kami pikir akan terjadi peningkatan pendapatan DOD [pendanaan Departemen Pertahanan]," kata Hayes.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Hayes menyatakan, perang di Gaza atau di Israel merupakan situasi yang tragis tetapi pada akhirnya kemungkinan besar akan menghasilkan pesanan tambahan. "Fokus kami saat ini adalah: Bagaimana kami mendukung Angkatan Pertahanan Israel? Bagaimana kita memastikan bahwa mereka memiliki apa yang mereka butuhkan untuk dapat membela negaranya?” ujarnya.

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza yang perintah Hamas, lebih dari 7.700 orang telah terbunuh dalam serangan balasan Israel di Jalur Gaza, termasuk sekitar 3.500 anak-anak. Jumlah korban ini akan terus bertambah dengan sikap Israel yang enggan melakukan gencatan senjata dan terus melakukan pemblokiran bantuan dan komunikasi. Dwina Agustin

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement