Ahad 05 Nov 2023 03:50 WIB

16 Rumah Sakit di Gaza Berhenti Beroperasi

Kemenkes Palestina menyerukan agar perbatasan Rafah dibuka untuk para korban terluka.

Keluarga Palestina yang meninggalkan rumah mereka berkumpul di lokasi rumah sakit Al-Quds, setelah serangan udara Israel di lingkungan Tel al-Hawa, di Kota Gaza, 30 Oktober 2023.
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Keluarga Palestina yang meninggalkan rumah mereka berkumpul di lokasi rumah sakit Al-Quds, setelah serangan udara Israel di lingkungan Tel al-Hawa, di Kota Gaza, 30 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 16 rumah sakit di Gaza kini tidak dapat berfungsi. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Gaza, Sabtu (4/11/2023), juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina menuturkan, aksi pengeboman yang dilakukan oleh Israel membuat sejumlah fasilitas perawatan medis rusak.

Sementara blokade total yang diberlakukan sejak 9 Oktober lalu oleh Israel, membuat rumah sakit tidak bisa mengoperasikan generator karena habisnya pasokan bahan bakar. Kementerian Dalam Negeri di Gaza mengatakan generator di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara telah dimatikan sepenuhnya sejak Sabtu (4/11/2023).

Baca Juga

Pada Sabtu kemarin, pasukan Israel terus melancarkan serangan udara ke Gaza. Daerah sekitar rumah sakit al-Quds menjadi sasaran serangan udara tersebut, menyebabkan kepanikan dan kekacauan yang meluas.

“Pendudukan secara langsung menargetkan sekitar rumah sakit… sekitar 105 fasilitas medis juga menjadi sasaran,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan dilansir Middle East Eye.

Dia juga menyerukan agar perbatasan Rafah dibuka agar mereka yang terluka dapat menerima perawatan. “Jika tidak dibuka, kita akan kehilangan ratusan nyawa lagi," katanya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement