Selasa 07 Nov 2023 12:17 WIB

Serangan Israel Buat Petani Zaitun di Gaza tak Bisa Merasakan Musim Panen

Bulan Oktober dan November merupakan saat buah zaitun dipanen.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
File - Petani Palestina memanen buah zaitun di sebelah pembatas pemisah.
Foto: AP/Oded Balilty
File - Petani Palestina memanen buah zaitun di sebelah pembatas pemisah.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Samaher Abu Jameh marah. Ibu dua anak ini telah bekerja sebagai petani bersama orang tuanya sejak kecil di kota Abasan al-Kabira di Gaza selatan, dekat perbatasan dengan Israel.

“Tanah saya memiliki pohon zaitun dan rumah kaca yang ditanami tomat dan hewan ternak,” kata Samaher dikutip dari Aljazirah.

Baca Juga

Samaher tidak bisa lagi merawat pohon atau tomat tersebut. Perempuan berusia 40 tahun ini harus menjadi pengungsi bersama keluarganya dan tinggal di sekolah yang dikelola PBB di pusat kota Khan Younis akibat pemboman tanpa henti oleh Israel sejak 7 Oktober.

“Saya tidak tahu di negara bagian mana mereka berada. Saya hanya ingin mencapai tanah saya untuk melihat apa yang terjadi,” kata petani Gaza itu.

Sentimen serupa juga dirasakan oleh para petani di seluruh Gaza. Bulan Oktober dan November merupakan saat buah zaitun dipanen dan momen ini memiliki makna khusus bagi warga Palestina.

Bagi warga Gaza, periode memanen ini sebagai acara nasional yang merayakan hubungan dan ikatan mereka dengan tanah tersebut. Para petani memetik buah zaitun bersama keluarga besar dan teman-temannya. Lagu daerah menciptakan suasana meriah.

Makanan dimasak dan dikonsumsi bersama di bawah pohon. Buah zaitun kemudian diperas untuk mengekstrak minyak zaitun, kualitasnya tergantung pada iklim dan tanah.

Tapi dengan perang terbaru Israel di Gaza, para petani terpaksa meninggalkan tanah dan rumah mereka, dan risiko yang selalu mereka hadapi karena kedekatannya dengan perbatasan dengan Gaza. Israel telah berlipat ganda secara dramatis.

Samaher mengatakan, beberapa petani mencoba kembali ke tanah mereka tetapi menjadi sasaran pesawat tempur Israel. “Kami mengalami penderitaan yang luar biasa sebagai petani karena perang ini sangat merugikan kami. Kami hampir tidak punya waktu untuk mengatur napas dari perang tahun 2021 sebelum perang ini dimulai," ujarnya.

Ahmed Abu Rjeila terbiasa menghindari peluru. “Saya biasa pergi ke tanah saya di Abasan al-Jadida bersama ketiga saudara laki-laki saya meskipun kami menghadapi bahaya setiap hari dari pendudukan Israel, yang akan menembak kami agar bisa pergi,” kata pria berusia 40 tahun ini.

Kini, risikonya terlalu tinggi, meskipun kemungkinan kehilangan hasil panen membuatnya khawatir. Dia dan keluarganya mengungsi dari rumah a pada awal perang, dan tinggal di salah satu sekolah PBB di Khan Younis.

“Saya memiliki ratusan pohon zaitun, dan keluarga serta teman-teman seharusnya memetiknya dan menjualnya di pasar atau memerasnya di mesin penggilingan zaitun,” kata Rjeila.

Rjeila juga menanam tanaman musiman di rumah kaca. “Saya menghabiskan ribuan syikal pada musim ini, dan investasi saya tidak akan kembali jika perang ini terus berlanjut dan akses saya terhadap tanah saya ditolak," ujarnya.

Bahkan sebelum perang, musim pemetikan zaitun semakin dirusak oleh kekerasan. Di wilayah pendudukan Tepi Barat, pemukim Israel tercatat menyerang warga Palestina di tanah mereka, mencuri buah zaitun, dan membakar kebun. 

Petani zaitun Palestina bernama Bilal Saleh ditembak mati oleh seorang pemukim pada Oktober ketika sedang memanen tanamannya di dekat Nablus.

Sedangkan di Jalur Gaza, tantangan datang dari militer Israel. Pasukan menargetkan dan mengebom lahan pertanian selama masa perang atau menyemprotnya dengan pestisida, sehingga mematikan tanaman dan menjadikan tanah tidak cocok untuk pertanian.

Dekat kota selatan Khan Younis, lahan pertanian mencakup area seluas lebih dari 4.000 hektar dan terletak di sebelah timur kota di sekitar kota-kota dekat pagar perbatasan Israel, seperti Khuza'a, Abasan al-Kabira, Abasan al-Jadida dan Bani Suhaila. Menurut Kementerian Pertanian di Jalur Gaza, terdapat 7.000 pertanian di Kegubernuran Khan Younis.

Laporan Kementerian Pertanian menyatakan, pengeboman yang terus menerus di timur Khan Younis telah mengakibatkan kematian hampir 20 petani dan cedera lainnya. Selama seminggu terakhir, tentara Israel melepaskan tembakan tank ke arah lahan pertanian di sebelah timur kota al-Fukhari, tempat para petani berusaha mencapai lahan untuk mengumpulkan hasil panen dan menjualnya di pasar.

“Kami patah hati atas hasil panen kami, yang tidak dapat kami capai," ujar Ahmed Qudeih yang berasal dari kota Khuza’a dan kini juga mengun gsi akibat serangan Israel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement