Kamis 09 Nov 2023 06:25 WIB

Ribuan Anak Terbunuh, Sekjen PBB: Ada yang Salah dengan Operasi Militer Israel di Gaza

Empat puluh persen dari 10.569 orang yang dibunuh Israel di Gaza dalah anak-anak.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
File - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres saat mengunjungi perbatasan Rafah, Mesir pada  20 Oktober 2023.
Foto: AP Photo/Mohammed Asad
File - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres saat mengunjungi perbatasan Rafah, Mesir pada 20 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan jumlah warga sipil yang terbunuh di Jalur Gaza menunjukkan ada sesuatu yang "jelas-jelas salah" dengan operasi militer Israel ke Hamas.

"Ada pelanggaran yang dilakukan oleh Hamas ketika mereka memiliki perisai manusia. Namun, ketika kita melihat jumlah warga sipil yang terbunuh dalam operasi militer tersebut, ada sesuatu yang jelas-jelas salah," kata Guterres pada kantor berita Reuters, Selasa (9/11/2023).

Baca Juga

Israel bersumpah untuk memusnahkan Hamas setelah gerakan itu menggelar serangan mendadak yang Israel klaim menewaskan 1.400 orang pada 7 Oktober lalu. Israel menyerang Gaza dari udara, memberlakukan pengepungan dan melancarkan invasi darat.

Para pejabat Palestina mengatakan 10.569 orang gugur dalam serangan-serangan Israel. Empat puluh persen di antaranya adalah anak-anak.

"Penting juga untuk membuat Israel memahami adalah bertentangan dengan kepentingan Israel untuk melihat setiap hari gambaran mengerikan tentang kebutuhan kemanusiaan yang dramatis dari rakyat Palestina," kata Guterres.

"Hal itu tidak membantu Israel dalam kaitannya dengan opini publik global."

Guterres membandingkan jumlah anak-anak yang terbunuh di Gaza dengan jumlah korban jiwa dalam konflik di seluruh dunia yang ia laporkan setiap tahunnya.

"Setiap tahun, jumlah pembunuhan anak-anak oleh salah satu aktor dalam semua konflik yang kami saksikan maksimal mencapai ratusan," kata Guterres.

"Dalam beberapa hari di Gaza, ribuan anak terbunuh, yang berarti ada sesuatu yang jelas-jelas salah dalam cara operasi militer dilakukan," katanya.

Laporan PBB tentang anak-anak dan konflik bersenjata mencakup daftar yang dimaksudkan untuk mempermalukan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik dengan harapan dapat mendorong mereka untuk menerapkan langkah-langkah untuk melindungi anak-anak.

Daftar ini kontroversial, para diplomat mengatakan dalam beberapa tahun Israel memberikan tekanan dalam upaya untuk tidak masuk dalam daftar tersebut. Laporan berikutnya akan dirilis pertengahan tahun depan. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement