Rabu 15 Nov 2023 07:56 WIB

Gaza Alami Kerawanan Pangan Akibat Bombardir Israel

FAO menganggap seluruh penduduk sipil di Gaza berada dalam kondisi rawan pangan

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Dari antrean panjang, warga Gaza berebut untuk mendapatkan roti di sebuah toko makanan, yang menyediakan pasokan roti terakhir di salah satu kawasan Gaza.
Foto: AP
Dari antrean panjang, warga Gaza berebut untuk mendapatkan roti di sebuah toko makanan, yang menyediakan pasokan roti terakhir di salah satu kawasan Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengatakan, seluruh penduduk Gaza saat ini menderita kerawanan pangan akibat serangan Israel yang tiada henti. Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu mengatakan, sebelum eskalasi yang terjadi saat ini, hampir 60 persen rumah tangga di Gaza dianggap rawan pangan atau rentan terhadap kerawanan pangan.

“Pada titik ini, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menganggap seluruh penduduk sipil di Gaza berada dalam kondisi rawan pangan,” kata Dongyu, dilansir Anadolu Agency, Selasa (14/11/2023).

Baca Juga

Dongyu menambahkan, FAO berkomitmen penuh untuk mengatasi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak bagi penduduk di Jalur Gaza. Dia menekankan, gencatan senjata secepatnya adalah sebuah prasyarat untuk ketahanan pangan, dan hak atas pangan adalah hal mendasar bagi hak asasi manusia.

Ketika serangan Israel di Jalur Gaza memasuki hari ke-39, setidaknya 11.180 warga Palestina telah terbunuh, termasuk lebih dari 7.700 wanita dan anak-anak. Sementara sekitar 28.200 lainnya terluka.

Ribuan bangunan, termasuk rumah sakit, masjid, dan gereja, juga telah rusak atau hancur akibat serangan udara dan serangan darat Israel. Sementara itu, Israel mengklaim korban tewas di pihaknya mencapai sekitar 1.200 orang.

Sebanyak 155 truk bantuan tambahan telah memasuki Jalur Gaza melalui perbatasan Rafah dengan Mesir. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina pada Selasa mengatakan, truk-truk tersebut memuat perbekalan penting, termasuk obat-obatan dan perlengkapan medis, bahan makanan, air dan perbekalan bantuan.  Namun pengiriman bahan bakar tidak dibolehkan.

Sejak 21 Oktober, total 1.135 truk bantuan telah diizinkan memasuki Gaza. Namun jumlah tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terkena dampak serangan Israel.

Di bawah blokade Israel selama 16 tahun di Gaza, 500 truk barang, termasuk 45 truk bahan bakar memasuki Gaza setiap hari. Namun semuanya terhenti sejak pecahnya pertempuran di Gaza pada 7 Oktober. Gaza mengalami kekurangan seluruh komoditas pokok, termasuk bahan bakar yang sangat dibutuhkan rumah sakit.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement