Selasa 28 Nov 2023 13:35 WIB

Popularitas Hamas Melonjak di Tepi Barat Sejak Menyerang Israel pada 7 Oktober

Tepi Barat dipimpin oleh Otoritas Palestina (PA) yang didukung oleh internasional.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Pejuang brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas (ilustrasi).
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Pejuang brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT -- Kelompok yang memerintah di Gaza Hamas telah mengalami lonjakan popularitas di kalangan warga Palestina sejak 7 Oktober, termasuk di wilayah pendudukan Tepi Barat. Tepi Barat dipimpin oleh Otoritas Palestina (PA) yang didukung internasional dan mendorong pembicaraan secara damai dengan Israel.

Dukungan terhadap Hamas ini tecermin dari perayaan pembebasan tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel. Banyak di antara mereka yang mengibarkan bendera hijau Hamas dan meneriakkan slogan-slogan pro Hamas saat mereka memeluk para tahanan Palestina yang telah dibebaskan.

Baca Juga

Gambaran massa yang berjumlah besar, muda, dan vokal telah menimbulkan kekhawatiran bagi PA yang sedang berjuang untuk tetap relevan. Salah satu penduduk Tepi Barat Abdallah mengatakan, dia tumbuh besar dikelilingi oleh para pendukung Fatah, termasuk ayah dan pamannya.

Namun, Fatah, faksi Palestina paling terkemuka dan tertua yang mendominasi PA dinilai telah kehilangan kompasnya. “Fatah dulunya percaya pada perlawanan dan pembebasan, tetapi hal itu sudah hilang dan yang dikhawatirkan para pemimpinnya hanyalah melindungi kepentingan mereka,” katanya.

“Sejauh yang kami ketahui, Hamas adalah pemimpin rakyat Palestina," ujar Abdallah dikutip dari Jerusalem News.

Peningkatan dramatis dukungan Palestina terhadap Hamas digambarkan sebagai konsekuensi yang tidak disengaja dari operasi militer Israel di Gaza. Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan adanya penurunan tajam dalam dukungan terhadap Presiden Palestina sekaligus pemimpin Fatah Mahmoud Abbas.

"Dia belum memenuhi janjinya. Dia melakukan perlawanan damai yang populer ini tanpa hasil. Sudah waktunya dia mengosongkan kursinya," kata pekerja restoran Mohiyee Eid berusia 25 tahun.

Eid menyatakan, masyarakat melihat kepemimpinan PA tidak efektif dan melakukan segalanya untuk tetap berkuasa dengan cara apa pun. “Generasi saya kehilangan harapan terhadap solusi politik, dan kami menolak pendudukan tanpa akhir ini, dan Hamas serta faksi lain di Gaza punya jawabannya," katanya.

Melalui kepemimpinan Abbas, PA dianggap sebagai entitas politik yang otoriter, korup, dan tidak demokratis. PA dinilai telah diperintah oleh sekelompok tokoh yang mementingkan diri sendiri.

"Mereka telah bernegosiasi selamanya tanpa hasil apa pun. Lihat Hamas, lihat apa yang mereka lakukan dalam waktu singkat ini. Mereka memaksa Israel menerima pertukaran tahanan," kata Amani yang merupakan ibu empat anak yang berada di pusat kota Ramallah yang menunggu kedatangan para tahanan Palestina yang dibebaskan pada akhir pekan.

“Saya bukan Hamas, tapi saya mendukung tindakan mereka. Masyarakat menginginkan hasil,” katanya.

Putaran kekerasan terakhir ini memberi tekanan pada Abbas dan partai Fatah yang dipimpinnya. “Abbas menghancurkan Fatah, dan lihat betapa populernya Hamas,” ujar Amani.

Hamas menang dalam pemilu parlemen Palestina terakhir yang diadakan pada 2006. Pemilu baru telah berulang kali ditunda sejak Hamas merebut kekuasaan dari Fatah di Gaza dalam perang saudara singkat pada 2007. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement