Kamis 30 Nov 2023 10:33 WIB

Kembali Kunjungi Israel, Menlu AS Upayakan Perpanjangan Gencatan Senjata

Lawatan terbaru Blinken ke Israel merupakan yang ketiga sejak pecahnya perang di Gaza

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
 Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken kembali mengunjungi Israel pada Kamis (30/11/2023).
Foto: EPA-EFE/ALAA BADARNEH
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken kembali mengunjungi Israel pada Kamis (30/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken kembali mengunjungi Israel. Dia telah tiba di Tel Aviv pada Kamis (30/11/2023) dan diagendakan melakukan pertemuan dengan para pejabat Israel untuk mengupayakan perpanjangan gencatan senjata di Jalur Gaza.

“Dalam beberapa hari ke depan, kami akan fokus melakukan apa yang kami bisa untuk memperpanjang jeda sehingga kita terus bisa mengeluarkan lebih banyak sandera dan lebih banyak bantuan kemanusiaan yang masuk (ke Gaza),” kata Blinken pada konferensi pers di Brussels, Belgia, Rabu (29/11/2023).

Baca Juga

Lawatan terbaru Blinken ke Israel merupakan yang ketiga sejak pecahnya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023. Menurut seorang pejabat Palestina, nantinya Biden akan turut mengunjungi Tepi Barat dan kemungkinan melangsungkan pertemuan dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Hamas kembali membebaskan 16 sandera pada Rabu kemarin. Sejak gencatan senjata dimulai pada 24 November 2023, Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya di Gaza sudah membebaskan 70 warga Israel yang mereka sandera. Selain itu, terdapat hampir 30 warga asing yang turut dibebaskan.

Merespons pembebasan sandera terbaru oleh Hamas, Israel juga membebaskan 30 tahanan Palestina dari penjara di Tepi Barat. Sejak menyepakati gencatan senjata dengan Hamas, Israel sudah membebaskan 210 tahanan Palestina sebagai imbalan atas pembebasan sandera.

Saat ini Hamas masih berupaya memperpanjang gencatan senjata dengan Israel yang dijadwalkan berakhir pada Kamis, pukul 07:00 waktu setempat atau 12:00 WIB. Seorang sumber Hamas mengungkapkan, fokus perundingan yang sedang berlangsung adalah perpanjangan gencatan senjata selama dua hari atau lebih.

Namun, dia mengakui negosiasi berlangsung alot. “Apa yang diusulkan (Israel) dalam diskusi untuk memperpanjang gencatan senjata bukanlah yang terbaik,” ucap sumber Hamas tersebut, Rabu, dikutip laman Alarabiya.

Dia menambahkan, dalam perundingan yang dimediasi Qatar dan Mesir itu, Hamas menuntut penarikan tank serta peralatan militer Israel dari Gaza. “Setiap diskusi mengenai pertukaran tahanan militer, tentara dan perwira, pertama-tama akan membutuhkan penghentian agresi (Israel) dan pencabutan pengepungan yang mencekik Gaza,” kata dia.

Hamas telah menyampaikan siap membebaskan semua tentara Israel yang ditawannya. Namun imbalannya, Israel harus melepaskan semua tahanan Palestina dari penjara-penjara di Tepi Barat. “Kami siap membebaskan semua tentara (Israel) sebagai imbalan atas semua tahanan kami,” ujar pejabat Hamas yang juga mantan menteri kesehatan Gaza, Bassem Naim, dalam konferensi pers di Cape Town, Afrika Selatan, Rabu kemarin.

Dia menambahkan bahwa Hamas juga mengupayakan gencatan senjata permanen dengan Israel. “Kami mencoba dengan para mediator untuk merundingkan gencatan senjata permanen,” ujar Naim. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement