Selasa 19 Dec 2023 20:51 WIB

Serangan Udara Zionis Israel Hantam 3 Rumah di Rafah Gaza, 20 Warga Gugur

Israel terus lakukan serangan intensif di Jalur Gaza

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Nashih Nashrullah
Warga Palestina mencari korban di reruntuhan bangunan di Rafah, Gaza Selatan.  Israel terus lakukan serangan intensif di Jalur Gaza
Foto: AP Photo/Fatima Shbair
Warga Palestina mencari korban di reruntuhan bangunan di Rafah, Gaza Selatan. Israel terus lakukan serangan intensif di Jalur Gaza

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Pejabat kesehatan Palestina megungkap rudal Israel dan serangan udara di daerah Rafah di Gaza selatan menghantam tiga rumah dan menewaskan sedikitnya 20 warga Palestina. Padahal, banyak pengungsi Palestina berdesakan di Rafah di perbatasan Gaza dengan Mesir.

Seorang pejabat organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) untuk Gaza, Richard Peeperkorn mengatakan, rumah sakit Kamal Adwan di Gaza utara yang digerebek pasukan Israel pekan lalu tidak lagi berfungsi dan pasien termasuk bayi telah dievakuasi.

Baca Juga

"Kami tidak sanggup kehilangan rumah sakit mana pun," kata Peeperkorn seperti dikutip dari laman Arab News, Selasa (19/12/2023).

Pepperkorn juga mengatakan, sekitar 4.000 pengungsi yang berlindung di kompleks medis Nasser di Khan Younis berada dalam risiko ketika Israel melancarkan operasi militer di sana.

Sementara itu warga Khan Younis melaporkan terjadinya baku tembak sengit antara kelompok Hamas dan pasukan Israel. "Tank dan pesawat Israel mengebom daerah daerah pusat kota," kata warga.

Padahal, puluhan ribu pengungsi Palestina masih berdesakan di Rafah di perbatasan Gaza dengan Mesir.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat per Senin (18/12/2023) bahwa 19.453 warga Palestina telah tewas dan 52.286 terluka dalam serangan Israel di wilayah yang dikuasai Hamas dalam kurun waktu 2 bulan peperangan.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamim Netanyahu yang telah berjanji untuk menang melawan Hamas mencatat sebanyak 1.200 warga Israel tewas dan menyandera 240 orang. Pembalasan Israel yang semakin intensif terhadap Hamas telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan pemerintah dan organisasi internasional mengenai jumlah korban sipil, kelaparan, dan tunawisma. 

Ayah empat anak Raed (45 tahun) yang sudah dua kali pindah rumah bersama keluarganya mengatakan, warga Gaza kelelahan karena berusaha bertahan hidup.

"Uang sudah kehilangan nilainya, sebagian besar barang tidak tersedia. Kami bangkit dari tempat tidur setelah selamat dadi pengeboman malam hari untuk berkeliling jalanan mencari makanan, kami lelah. Kami menginginkan perdamaian, gencatan senjata, apapun sebutannya tapi tolong hentikan perang," ujarnya di kawasan Rafah. 

Baca juga: Israel Kubur Warga Hidup-Hidup, Alquran Ungkap Perilaku Yahudi kepada Nabi Mereka

Serangan udara dan darat Israel di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober telah menewaskan lebih dari 18.700 rakyat Palestina, yang sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak, serta melukai banyak lainnya.

Perang telah menyebabkan Gaza hancur dan setengah dari perumahan di wilayah pesisir tersebut rusak atau hancur, dan hampir 2 juta penduduk mengungsi di daerah kantong padat penduduk tersebut di tengah kekurangan makanan dan air bersih.

Dari sekitar 240 orang yang disandera Hamas saat serangan lebih dari dua bulan lalu, sekitar 130 orang masih ditahan setelah yang lain dikembalikan dalam gencatan senjata sementara bulan lalu.

photo
Israel kembali menggempur Jalur Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata pada Jumat (1/12/2023) pagi. - (Tim Infografis Republika.co.id) 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement